
Mahasiswa Kelompok 4 KKN Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al Banjari Tahun 2026. (Foto: rri.co.id)
Barito Kuala, HAISAWIT – Mahasiswa Kelompok 4 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al Banjari Tahun 2026 mengolah limbah cangkang kelapa sawit menjadi briket energi alternatif di Desa Koanda.
Program inovatif ini bertujuan mengoptimalkan potensi perkebunan lokal di Kecamatan Tamban yang selama ini belum tergarap maksimal. Para mahasiswa memperkenalkan teknik pengolahan limbah menjadi barang bernilai ekonomi tinggi bagi warga sekitar.
Ketua Kelompok 4 KKN UNISKA, Nia Septiani, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut dirancang guna membuka lapangan kerja mandiri. Ia meyakini pengolahan cangkang kelapa sawit dapat memperkuat ketahanan finansial masyarakat pedesaan secara signifikan.
“Melalui program briket cangkang sawit ini, kami berharap masyarakat Desa Koanda tidak hanya mampu mengurangi limbah, tetapi juga memperoleh peluang usaha baru yang dapat meningkatkan perekonomian desa,” ujar Nia, dikutip dari rri.co.id, Selasa (03/02/2026).
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UNISKA, Sanjaya, memberikan apresiasi atas keberhasilan mahasiswa dalam mengidentifikasi masalah lingkungan setempat. Beliau menilai langkah praktis ini sangat relevan dengan kebutuhan pengelolaan limbah kelapa sawit secara produktif.
“Kegiatan ini mencerminkan peran mahasiswa sebagai agen pemberdayaan masyarakat dan solusi atas permasalahan lingkungan,” kata Sanjaya saat memantau pelaksanaan program kerja mahasiswa di lapangan bersama perangkat desa setempat pada Februari ini.
Proses pembuatan briket mencakup beberapa tahapan teknis yang diajarkan langsung kepada kelompok tani dan pemuda desa. Tahapan tersebut sangat krusial agar kualitas bahan bakar alternatif yang dihasilkan memenuhi standar pasar.
Beberapa langkah utama dalam produksi briket cangkang sawit yang dilakukan oleh masyarakat Desa Koanda meliputi:
- Pengeringan cangkang sawit secara alami.
- Penghalusan bahan baku mentah.
- Pencampuran bahan dengan perekat khusus.
- Pencetakan briket menggunakan alat manual.
Kepala Desa Koanda menyatakan dukungan penuh terhadap keberlanjutan unit usaha briket ini. Ia menilai kehadiran mahasiswa memberikan pengetahuan baru yang selama ini sangat dibutuhkan oleh warga untuk mengelola sisa hasil perkebunan.
“Program ini sangat bermanfaat dan diharapkan dapat berlanjut setelah KKN selesai,” ungkap Kepala Desa Koanda saat memberikan sambutan penutupan kegiatan sosialisasi pembuatan energi alternatif dari limbah perkebunan tersebut.
Antusiasme warga terlihat saat sesi praktik langsung pembuatan briket yang dipandu oleh para mahasiswa Jurusan Manajemen. Masyarakat kini memiliki keterampilan baru yang berpotensi dikembangkan menjadi badan usaha milik desa yang menguntungkan.
Pengembangan briket cangkang sawit ini menjadi bukti nyata bahwa limbah perkebunan memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan sentuhan inovasi. Program KKN UNISKA 2026 resmi berakhir dengan meninggalkan kemandirian bagi warga lokal.***