Mahasiswa ITS Raih Juara 1 Hackathon Sawit 2025 dengan Inovasi Teknologi Radar Non-Invasif Cegah Ganoderma

Mahasiswa ITS meraih Juara 1 Hackathon Sawit 2025 melalui inovasi radar non-invasif untuk mendeteksi penyakit Ganoderma. Teknologi ini dikembangkan dengan pendekatan machine learning dan dinilai mampu membantu perkebunan sawit meningkatkan ketepatan identifikasi infeksi sejak tahap awal.

BERITA HAI INOVASI SAWIT

Arsad Ddin

27 November 2025
Bagikan :

Tim BiFlow dari ITS (Afan Ghafar Al Hadad, Muhamad Rusydi Al Hakim, Fabiola Tasya Natalia Wijaya, dan Marco Tjandrapurnama yang menjadi juara I. (Foto: portaljtv.com)

Surabaya, HAI SAWIT – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meraih Juara 1 Hackathon Sawit 2025 melalui inovasi radar non-invasif untuk mendeteksi penyakit Ganoderma pada tanaman kelapa sawit. Teknologi ini dinilai menawarkan solusi pendeteksian dini yang lebih efisien.

Inovasi tersebut dikembangkan dalam kompetisi yang digelar GAPKI dan BPDPKS sebagai wadah pengembangan teknologi sawit berbasis digital. Hackathon Sawit tahun ini menghadirkan finalis dari berbagai kampus dengan pendekatan inovasi yang beragam.

Dilansir dari laman ITS, Rabu (27/11/2025),  meraih Juara 1 dan Tim SawITSmart meraih Juara 2 dalam ajang Hackathon Sawit Nasional 2025 yang menampilkan berbagai proyek berbasis kecerdasan buatan.

Tim BiFlow menghadirkan sistem RAPIDS, teknologi radar non-invasif berbasis machine learning untuk deteksi dini Ganoderma Boninense. Pendekatan ini memungkinkan pengamatan kondisi tanaman tanpa merusak bagian batang atau akar kelapa sawit.

Pengembangan radar tersebut dilakukan oleh Afan Ghafar Al Hadad, Muhamad Rusydi Al Hakim, Fabiola Tasya Natalia Wijaya, dan Marco Tjandrapurnama. Proyek ini menjadi unggulan setelah menyisihkan ratusan proposal dari berbagai universitas.

Keunggulan utama RAPIDS berada pada kemampuannya membaca perubahan struktur internal tanaman sawit. Data dari radar diproses menggunakan model machine learning sehingga gejala awal infeksi dapat dikenali lebih cepat.

Selain Tim BiFlow, kompetisi ini turut menampilkan finalis yang membawa inovasi robotika, sistem pemantauan kebun, dan pengelolaan data berbasis kecerdasan buatan. Kolaborasi ide lintas kampus menjadi bagian dari dinamika Hackathon Sawit tahun ini.

Ratusan proposal yang masuk menunjukkan semakin luasnya minat mahasiswa terhadap pengembangan teknologi pertanian digital. Panitia mencatat bahwa peserta datang dari berbagai disiplin ilmu yang relevan dengan sistem perkebunan.

Hackathon Sawit merupakan inisiatif kolaboratif GAPKI dan BPDPKS yang membuka ruang bagi inovator, pengembang, dan talenta muda untuk menyumbangkan gagasan bagi masa depan industri kelapa sawit berbasis teknologi. Penyelenggaraan ini menempatkan sawit sebagai sektor yang siap memasuki era digital.

Ajang Hackathon Sawit 2025 menampilkan beragam pendekatan teknologi yang dikembangkan peserta, termasuk sistem radar non-invasif yang mengantar Tim BiFlow menjadi pemenang utama tahun ini.***

Bagikan :

Artikel Lainnya