Lapas Kelas IIA Bangkinang memanfaatkan lahan kosong di area kebun sebagai sarana pelatihan budidaya kelapa sawit bagi warga binaan, bertujuan membekali keterampilan produktif untuk mendukung pembinaan kemandirian.
Arsad Ddin
9 Agustus 2025Lapas Kelas IIA Bangkinang memanfaatkan lahan kosong di area kebun sebagai sarana pelatihan budidaya kelapa sawit bagi warga binaan, bertujuan membekali keterampilan produktif untuk mendukung pembinaan kemandirian.
Arsad Ddin
9 Agustus 2025
Bangkinang, HAISAWIT – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bangkinang memanfaatkan lahan kosong di area kebun Lapas untuk kegiatan penanaman bibit kelapa sawit. Program ini menjadi bagian pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Bangkinang, Rudinur, mengatakan pemanfaatan lahan kosong tersebut tidak hanya untuk penghijauan. Langkah ini juga diarahkan agar WBP memiliki bekal keterampilan ketika kembali ke masyarakat.
“Kami manfaatkan beberapa lahan kosong di dalam Lapas sebagai sarana pelatihan bercocok tanam. Kali ini, kami fokus pada penanaman kelapa sawit sebagai bagian dari pembinaan kemandirian. Harapannya, WBP bisa memiliki keterampilan yang bermanfaat saat bebas nanti,” ujar Rudinur, dikutip dari laman akun resmi Lapas Kelas IIA Bangkinang, Sabtu (9/8/2025).
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi upaya menciptakan lingkungan yang produktif di dalam Lapas. Menurutnya, program tersebut memberikan manfaat ganda bagi WBP dan petugas.
“Kegiatan seperti ini memberi nilai tambah, baik bagi para WBP maupun petugas. Selain itu, hasil dari pelatihan ini juga bisa dimanfaatkan secara langsung oleh dapur Lapas ataupun dibagikan kepada petugas,” kata Rudinur.
Kepala Lapas Kelas IIA Bangkinang, Alexander Lisman Putra, menjelaskan bahwa pihaknya mengembangkan berbagai pelatihan berbasis kemandirian. Salah satu bentuknya adalah pembinaan pertanian melalui penanaman kelapa sawit.
“Lapas bukan hanya tempat menjalani pidana, tetapi juga tempat pembinaan. Salah satu bentuk nyatanya adalah melalui pelatihan pertanian seperti ini. Ke depan, kami akan terus mengoptimalkan lahan yang ada untuk kegiatan produktif dan bermanfaat,” ujar Alexander.
Dalam pelaksanaannya, penanaman bibit kelapa sawit melibatkan WBP secara langsung. Kegiatan dilakukan di dalam lapas area kebun yang sebelumnya tidak termanfaatkan secara optimal.
Bibit yang ditanam diharapkan tumbuh baik sehingga dapat digunakan untuk menunjang kebutuhan internal Lapas. Sebagian hasil juga berpotensi dibagikan kepada petugas sebagai bentuk pemanfaatan produktif.
Program pelatihan ini berlangsung di bawah koordinasi petugas pembinaan. Setiap tahapan mulai dari penyiapan lahan hingga penanaman dilakukan sesuai panduan teknis yang berlaku.
Alexander menambahkan, pihak Lapas Bangkinang menjalin kerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Kampar. Kolaborasi tersebut bertujuan memberikan pendampingan teknis agar budidaya kelapa sawit dapat berjalan berkelanjutan.***