Kinerja emiten perkebunan dan produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diperkirakan tetap solid hingga akhir tahun, meskipun tekanan dari sisi kebijakan mulai terbuka.
Sahnia Mellynia
28 Januari 2026Kinerja emiten perkebunan dan produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diperkirakan tetap solid hingga akhir tahun, meskipun tekanan dari sisi kebijakan mulai terbuka.
Sahnia Mellynia
28 Januari 2026
Ilustrasi oleh Haisawit
Jakarta, HAISAWIT – Kinerja emiten perkebunan dan produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) diperkirakan tetap solid hingga akhir tahun, meskipun tekanan dari sisi kebijakan mulai terbuka. Riset Indo Premier Sekuritas mencatat bahwa sektor CPO masih menunjukkan daya tahan yang kuat pada kuartal IV-2025 (4Q25).
Dalam laporan riset yang dirilis pada 20 Januari 2026, Indo Premier memperkirakan laba bersih inti (core net profit) sektor CPO pada 4Q25 berpotensi meningkat sekitar 9 persen secara kuartalan (qoq) menjadi Rp2,5 triliun, berada di atas konsensus pasar. Kinerja positif ini terjadi di tengah tren normalisasi harga CPO domestik.
Pada 4Q25, harga CPO berbasis rupiah tercatat melemah tipis sekitar 1 persen qoq ke level Rp14,3 juta per ton. Tekanan harga dipengaruhi oleh tingginya persediaan global serta permintaan yang lebih lemah dari perkiraan, terutama dari India dan China. Sepanjang Desember 2025, stok minyak sawit Malaysia tercatat melonjak hingga 3,8 juta ton, tertinggi sejak 2021, meskipun produksi menurun dan ekspor meningkat.
Meski demikian, secara tahunan rata-rata harga CPO sepanjang 2025 tetap mengalami kenaikan sekitar 8 persen, sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi ini dinilai masih mendukung kinerja keuangan emiten sawit dan sesuai dengan estimasi Indo Premier untuk tahun buku 2025.
Dari sisi perusahaan, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) diperkirakan mencatat pertumbuhan laba paling kuat pada 4Q25 dengan kenaikan sekitar 25 persen qoq, didorong oleh penurunan beban utang. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) menyusul dengan pertumbuhan laba sekitar 22 persen qoq, seiring realisasi pengiriman tertunda dan penerapan mekanisme harga dengan jeda dua bulan.
Sementara itu, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) diproyeksikan tumbuh sekitar 6 persen qoq berkat penurunan biaya persediaan. Di sisi lain, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) diperkirakan mencatatkan penurunan tipis sekitar 2 persen qoq akibat produksi yang lebih rendah dan penggunaan mekanisme harga spot.
Secara keseluruhan, laba sektor CPO sepanjang 2025 diproyeksikan tumbuh sekitar 35 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp9,4 triliun. Indo Premier menilai kinerja emiten sawit secara umum akan sejalan dengan estimasi internal, bahkan berpotensi melampaui konsensus pasar, khususnya untuk TAPG dan LSIP.
Namun demikian, Indo Premier juga menyoroti sejumlah risiko kebijakan yang perlu dicermati. Penundaan implementasi program biodiesel B50 hingga setelah paruh kedua 2026 dinilai masih sesuai ekspektasi pasar. Sebaliknya, rencana kenaikan pungutan ekspor (export levy) CPO dari 10 persen menjadi 12,5 persen, yang diperkirakan mulai berlaku pada 1 Maret 2026, berpotensi menekan harga FOB agar tetap kompetitif di pasar global.
Di sisi lain, terdapat potensi penopang harga CPO ke depan. Pasokan dari Malaysia diperkirakan menurun seiring memasuki fase resting year, sementara produksi Indonesia berpotensi terganggu akibat rencana pemerintah melakukan penertiban tambahan 4–5 juta hektare lahan ilegal pada 2026.
Dengan kombinasi peluang dan risiko tersebut, Indo Premier menyatakan tengah melakukan peninjauan ulang terhadap peringkat sektor CPO, sembari tetap mencermati dinamika harga, kebijakan, dan pasokan global.