Geopolitik Venezuela Memanas, Barantin Pastikan Ekspor Sawit Indonesia Aman

Ekspor minyak sawit Indonesia tetap berjalan normal di tengah memanasnya situasi internal dan tekanan internasional terhadap Venezuela. Barantin mencatat volume perdagangan kedua negara relatif kecil sehingga stabilitas ekonomi sektor pertanian nasional terjaga.

BERITA

Arsad Ddin

17 Januari 2026
Bagikan :

Ilustrasi TBS Sawit - HaiSawit

Jakarta, HAISAWIT – Ketegangan politik serta dinamika geopolitik global di Venezuela tidak menggoyahkan arus perdagangan komoditas pertanian nasional. Badan Karantina Indonesia (Barantin) melaporkan aktivitas ekspor minyak maupun benih kelapa sawit tetap berjalan normal.

Stabilitas pasokan komoditas strategis terjaga lewat strategi diversifikasi pasar yang efektif. Hubungan dagang dengan berbagai negara mitra internasional menjadi benteng utama dalam menjaga kelancaran distribusi produk unggulan perkebunan Indonesia ke pasar luar negeri.

Kepala Barantin, Sahat M. Panggabean, memaparkan bahwa gejolak internal maupun tekanan internasional terhadap negara Amerika Latin tersebut tidak menyentuh sektor pertanian secara langsung. Posisi Indonesia memiliki tingkat ketergantungan yang rendah.

"Dinamika geopolitik global yang berkembang, termasuk situasi internal dan tekanan internasional terhadap Venezuela, terutama di sektor energi, tidak berpengaruh langsung terhadap perdagangan komoditas pertanian Indonesia. Hal ini disebabkan oleh rendahnya ketergantungan Indonesia terhadap Venezuela sebagai negara asal komoditas pangan strategis," ujar Sahat M. Panggabean, dikutip dari laman Barantin, Sabtu (17/01/2026).

Data Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology (Best Trust) menunjukkan volume impor asal Venezuela sangat kecil. Kontribusi komoditas pangan dari negara tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap neraca nasional.

"Angka tersebut menunjukkan bahwa kontribusi Venezuela terhadap pasokan nasional sangat terbatas. Sedangkan produk Indonesia yang diekspor ke Venezuela seperti minyak sawit, kayu olahan, tuna dan benih kelapa sawit, jumlahnya relatif kecil," imbuh Sahat.

Berdasarkan catatan statistik perdagangan kedua negara sepanjang tahun 2025:

  • Impor kacang hijau asal Venezuela hanya 9.081 ton atau sekitar 0,63 persen dari total volume nasional.
  • Impor kakao biji hanya mencapai 680 ton atau setara 0,01 persen dari total kebutuhan domestik.
  • Pengiriman produk sawit Indonesia ke Venezuela berada pada skala yang tidak memengaruhi performa ekspor nasional.

Indonesia mengamankan kebutuhan komoditas melalui pengalihan sumber asal negara. Pasokan kacang hijau kini mengandalkan Australia dan Kanada, sementara industri pengolahan kakao dalam negeri mendapat pasokan dari Pantai Gading serta Ekuador.

Otoritas karantina memperketat pengawasan melalui tindakan biosekuriti pada setiap komoditas yang melintasi wilayah perbatasan. Langkah teknis ini diambil untuk memproteksi sumber daya alam hayati sekaligus menjamin keamanan pangan nasional tetap stabil.

Pihak Barantin memberikan jaminan bahwa stabilitas ekonomi pada sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan nasional tidak terganggu. Pengawasan intensif menjadi instrumen utama dalam menghadapi setiap fluktuasi kondisi politik di level internasional.

"Dengan kondisi tersebut, Barantin memastikan bahwa stabilitas perdagangan komoditas pertanian, peternakan, dan perikanan nasional tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik global," pungkas Sahat.

Saat ini, kepatuhan terhadap persyaratan teknis karantina menjadi fokus utama guna menjaga daya saing. Keamanan hayati tetap diprioritaskan untuk mendukung keberlanjutan ekspor komoditas pertanian Indonesia di pasar global yang kian dinamis.***

Bagikan :

Artikel Lainnya