
Dok. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)
Jakarta, HAISAWIT – PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membukukan lonjakan laba bersih sebesar 60 persen secara tahunan menjadi Rp367 miliar pada kuartal pertama 2025 di tengah momentum kenaikan harga pasar global.
Pertumbuhan laba yang signifikan ini didorong oleh kenaikan pendapatan Perseroan sebesar 20 persen menjadi Rp2,7 triliun, dengan sektor kelapa sawit tetap mendominasi pendapatan total melalui kontribusi sebesar 88 persen.
Faktor utama pemicu keuntungan ini adalah Harga Jual Rata-rata atau Average Selling Price (ASP) Crude Palm Oil (CPO) yang naik 27 persen menjadi Rp14.909 per kilogram serta lonjakan harga produk turunan lainnya.
Manajemen menjelaskan bahwa fenomena keterbatasan pasokan akibat cuaca kering pada periode sebelumnya menjadi penyebab utama pergeseran harga pasar yang menguntungkan posisi keuangan perusahaan hingga periode laporan kuartal terbaru ini.
Direktur Utama PT Dharma Satya Nusantara Tbk, Andrianto Oetomo, memaparkan analisis mengenai dinamika operasional dan pengaruh kondisi iklim terhadap penurunan volume produksi yang justru mengerek naik nilai jual produk di pasar.
“Kondisi cuaca kering pada kuartal pertama 2024 yang lalu, baik di wilayah Kalimantan Timur yang merupakan wilayah operasional terbesar Perseroan maupun di wilayah Indonesia lainnya, berimbas pada penurunan produksi Tandan Buah Segar (TBS). Akibatnya, pasokan CPO, PKO, dan PK juga menurun dan berdampak pada kenaikan harga jual produk kelapa sawit, mengikuti mekanisme supply dan demand. Selain itu, biaya produksi yang juga terkontrol dengan baik berdampak positif terhadap profitabilitas” ujar Andrianto, dikutip dari laman dsn.co.id, Senin (02/02/2026).
Berikut adalah rincian kenaikan harga jual produk kelapa sawit Perseroan pada kuartal pertama 2025:
- Harga jual Palm Kernel Oil (PKO) melonjak 108 persen menjadi Rp27.349 per kilogram.
- Harga jual Palm Kernel (PK) mengalami kenaikan 101 persen menjadi Rp10.814 per kilogram.
- Kenaikan harga CPO sebesar 27 persen mendukung perolehan EBITDA sebesar Rp861 miliar.
Meskipun harga melonjak, produksi CPO tercatat turun 8 persen menjadi 137,6 ribu ton karena pasokan Tandan Buah Segar (TBS) menyusut 8,7 persen menjadi 479 ribu ton akibat faktor kurangnya curah hujan.
Aktivitas peremajaan tanaman atau replanting juga memengaruhi volume output harian karena perusahaan telah melakukan penebangan lebih dari 3.000 hektar pohon kelapa sawit tua hingga periode laporan awal tahun 2025.
Selain sawit, segmen produk kayu menyumbang kinerja positif melalui pertumbuhan pendapatan produk panel sebesar 6,3 persen dan engineered flooring sebesar 13,5 persen berkat ekspansi ke pasar non-tradisional yang mulai membuahkan hasil.
Kondisi keuangan yang solid membuat lembaga pemeringkat Pefindo menaikkan rating obligasi Perseroan dari idA menjadi idA+ pada Maret 2025, yang mencerminkan profil risiko rendah dan struktur modal yang semakin sehat.
Hingga saat ini, PT Dharma Satya Nusantara Tbk tercatat memiliki total aset sebesar Rp17,6 triliun dengan posisi ekuitas yang menguat menjadi Rp10,3 triliun seiring penurunan total liabilitas sebesar 2 persen.***