
Gambar Illustrasi Buah Sawit - Hai Sawit
Jakarta, HAISAWIT – Pergeseran peta kekuatan minyak nabati global tahun 1965 menunjukkan perubahan drastis dalam sejarah ketahanan pangan dunia yang kini berada di bawah dominasi komoditas minyak kelapa sawit.
Dahulu, minyak kedelai memegang kendali penuh atas pasar internasional dengan angka penggunaan yang sangat tinggi sebelum efisiensi lahan dan keunggulan kompetitif kelapa sawit mulai mengambil alih posisi utama.
Dilansir dari laman bpdp or.id, Sabtu (07/02/2026), struktur konsumsi empat minyak nabati dunia pada 1965 mencatat pangsa minyak kedelai sebesar 61 persen, minyak rapeseed 23 persen, sawit 16 persen, serta bunga matahari satu persen.
Angka-angka tersebut membuktikan bahwa pada pertengahan abad ke-20, ketergantungan masyarakat global terhadap tanaman kacang-kacangan sangat besar dibandingkan komoditas perkebunan tropis yang saat itu masih dalam tahap pengembangan awal.
Namun, memasuki periode 2021, situasi berbalik secara signifikan dengan data yang menunjukkan posisi minyak sawit naik ke peringkat pertama melalui perolehan pangsa sebesar 40 persen di pasar dunia.
Kenaikan pesat ini terjadi karena ketersediaan pasokan yang melimpah serta harga jual yang lebih rendah bagi konsumen dibandingkan minyak kedelai, minyak rapeseed, maupun minyak biji bunga matahari yang produksinya terbatas.
Berikut adalah rincian pergeseran pangsa pasar minyak nabati dunia:
- Minyak kelapa sawit naik dari 16 persen menjadi 40 persen.
- Minyak kedelai turun dari 61 persen ke posisi 33 persen.
- Minyak rapeseed menyusut hingga menyentuh angka 17 persen.
- Minyak bunga matahari berada pada angka 11 persen.
Sejarah mencatat bahwa di Amerika Serikat (AS), penggunaan minyak kedelai memang masih menjadi yang utama, tetapi serapan minyak sawit di sana mengalami kenaikan dari tiga persen menjadi 10 persen.
Kondisi serupa terjadi di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang pada 1965 didominasi rapeseed sebesar 68 persen, namun penggunaan kelapa sawit di negara tersebut tumbuh mencapai 19 persen pada 2021.
India juga menunjukkan pola yang menarik dengan peningkatan konsumsi kelapa sawit dari 37 persen pada 1980 menjadi 44 persen dalam kurun waktu empat dekade terakhir akibat faktor pertumbuhan jumlah penduduk.
Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) serta Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD), konsumsi global kini mencapai 18 kilogram per kapita.
Sekitar 30 persen dari total konsumsi minyak nabati untuk bahan pangan dunia tersebut berasal dari kelapa sawit, menjadikannya pilar penting dalam menjaga stabilitas nutrisi lemak bagi populasi manusia di bumi.
Pilihan masyarakat internasional beralih ke komoditas ini karena produktivitas kelapa sawit yang jauh lebih tinggi daripada tanaman lain, sehingga penggunaan lahan menjadi lebih hemat sekaligus menjaga keberlangsungan ketersediaan bahan baku.
Kilas balik dari tahun 1965 ini memberikan gambaran jelas bahwa pengambilalihan posisi puncak oleh minyak sawit merupakan hasil dari evolusi kebutuhan industri pangan dan efisiensi produksi yang sulit ditandingi komoditas lain.***