
Jakarta, HaiSawit – Gelaran Hai Sawit Simposium (HASI) 2026 menjadi pusat rujukan transformasi digital bagi manajer perkebunan pada 22–23 April 2026 di Jakarta. Forum ini membedah kesiapan industri dalam mengadopsi teknologi cerdas.
Simposium memfokuskan agenda pada integrasi otomatisasi dan pertukaran data dalam proses produksi kelapa sawit secara hulu ke hilir. Para pakar akan memaparkan bagaimana teknologi mutakhir membantu efisiensi kerja di tengah tantangan global.
Transformasi Sawit 4.0 menekankan pada penggunaan konektivitas tingkat tinggi untuk mengoptimalkan setiap lini manajemen unit perkebunan. Peserta dapat mempelajari model operasional yang memadukan keahlian agronomi tradisional dengan sistem komputasi awan yang presisi.
Pilar Utama Teknologi 4.0
Pembahasan menyasar pada elemen penting yang mengubah cara kerja manajer perkebunan di lapangan. Penggunaan instrumen berbasis kecerdasan buatan membantu proses pengambilan keputusan strategis menjadi lebih cepat, akurat, serta meminimalkan risiko kesalahan manusia.
Sejumlah teknologi kunci yang menjadi pokok bahasan di antaranya:
- Internet untuk Segala atau Internet of Things (IoT) guna pemantauan kondisi mikro kebun secara langsung.
- Penggunaan algoritma pembelajaran mesin untuk prediksi serangan hama dan penyakit tanaman.
- Sistem manajemen armada otomatis guna mengoptimalkan distribusi hasil panen ke pabrik pengolahan.
- Integrasi basis data terpadu untuk pengelolaan administrasi tenaga kerja dan inventaris gudang secara digital.
Penerapan teknologi ini memungkinkan pengelola kebun memiliki kendali penuh terhadap aset melalui perangkat seluler. Data operasional yang dihasilkan secara otomatis memudahkan penyusunan laporan kerja harian dan evaluasi kinerja tanaman secara lebih transparan.
Peningkatan Kapasitas SDM
HASI 2026 juga menyajikan materi mengenai pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia dalam mengoperasikan sistem otomasi. Kesiapan mental dan teknis staf lapangan menjadi faktor penentu keberhasilan transisi menuju era digitalisasi perkebunan modern.
Himpunan Praktisi Kelapa Sawit Indonesia (HIPKASI) menyiapkan simulasi perangkat lunak yang membantu manajer menghitung kebutuhan pupuk secara presisi. Langkah ini bertujuan menekan biaya produksi sekaligus menjaga kesehatan ekosistem tanah di wilayah operasional perusahaan.
Pendaftaran bagi para profesional yang ingin memperdalam wawasan Sawit 4.0 tersedia dengan rincian biaya keikutsertaan sebagai berikut:
- Early Bird: Rp 1.850.000 (Hingga 31 Desember 2025).
- Regular: Rp 2.750.000 (1 Januari – 28 Februari 2026).
- Late: Rp 3.500.000 (1 Maret – 20 April 2026).
Calon peserta dapat melakukan registrasi melalui kanal resmi Hai Sawit Indonesia (HSI) guna mengamankan kuota kehadiran. Simposium ini memberikan kesempatan langka untuk berdialog langsung dengan para pengembang solusi teknologi agribisnis terkemuka.
Kehadiran para pimpinan perusahaan besar dalam forum ini memperkuat posisi HASI 2026 sebagai kiblat inovasi kelapa sawit nasional. Strategi yang dirumuskan selama kegiatan bertujuan menjadi standar baru bagi operasional perkebunan yang lebih modern.
Pertemuan diakhiri dengan pemaparan visi jangka panjang mengenai keberlanjutan industri melalui pemanfaatan energi terbarukan di lingkungan perkebunan. HASI 2026 mempertegas bahwa transformasi digital merupakan langkah esensial untuk menjaga daya saing industri sawit nasional.***
