
Gambar Ilustrasi Sawit (gapki.id)
Jakarta, HAISAWIT - Kelapa sawit dikenal sebagai tanaman penghasil minyak nabati paling produktif di dunia. Dibanding tanaman lain, produktivitas sawit lebih tinggi sehingga penggunaan lahan menjadi lebih efisien.
Perbandingan produktivitas menunjukkan sawit menghasilkan lebih banyak minyak per hektare. Pernyataan ini didukung oleh data internasional yang membandingkan hasil sawit dengan kedelai, bunga matahari, dan rapeseed.
Dikutip dari laman GAPKI, Sabtu (30/8/2025), kelapa sawit menghasilkan 4–10 kali lebih banyak minyak nabati per hektare dibanding tanaman lain. Keunggulan ini membantu mengurangi tekanan terhadap lahan dan hutan.
Laporan Oil World (2021) mencatat perbedaan produktivitas yang signifikan antara sawit dan komoditas minyak nabati lain, memperlihatkan efisiensi sawit dalam produksi minyak per luas lahan.
Perkebunan sawit yang dibuka di lahan terbuka atau lahan terdegradasi dapat berfungsi sebagai penyerap karbon jangka panjang, tetapi potensi ini bergantung pada praktik pengelolaan dan kondisi lahan.
Limbah cair dan padat dari proses pengolahan kelapa sawit dapat diolah menjadi biogas dan biomassa, sehingga menjadi sumber energi terbarukan yang menggantikan sebagian bahan bakar fosil.
Pemanfaatan biodiesel berbasis sawit, seperti B35 dan B50, tercatat dalam beberapa kajian sebagai salah satu langkah yang membantu mengurangi emisi sektor transportasi.
Studi Wicke et al. (2011) menelaah perubahan penggunaan lahan dan menunjukkan bahwa efisiensi produksi sawit dapat membantu memenuhi kebutuhan minyak tanpa perluasan lahan yang besar.
Rujukan dari International Energy Agency (2016) dan kajian Olivier et al. (2022) menunjukkan bahwa sektor energi berbasis fosil masih menjadi kontributor utama emisi GRK global.
Data WRI yang dirujuk GAPKI menempatkan sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan (AFOLU) pada porsi lebih kecil dibanding sektor energi dalam perhitungan emisi global.
GAPKI merangkum kajian-kajian internasional tersebut untuk menginformasikan bahwa tuduhan sawit sebagai penyumbang utama emisi tidak didukung oleh data empiris yang tersedia.***