Riset MBKM UGM Ubah POME Jadi Biomassa Bernilai Ekonomi

Melalui riset MBKM, UGM menghadirkan inovasi bioremediasi POME sawit dengan memanfaatkan Chlorella vulgaris. Proses ini tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga menghasilkan biomassa kaya protein dan lipid yang bernilai tambah.

BERITA HAI INOVASI SAWIT

Arsad Ddin

8 September 2025
Bagikan :

Tim MBKM Universitas Gadjah Mada melaksanakan penelitian pengolahan POME menggunakan mikroalga Chlorella vulgaris. (Foto: Dok. Fak Biologi UGM)

Yogyakarta, HAISAWIT – Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program MBKM Penelitian mengembangkan riset pengolahan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan mikroalga Chlorella vulgaris.

Riset tersebut melibatkan Dr. Eko Agus Suyono, M.App.Sc., bersama mahasiswa Muhammad Faris Khiar Calosa dan Jauza Hanifah Azzahra. Mereka mengkaji cara mengubah POME berpolutan tinggi menjadi biomassa bernilai ekonomi.

Dalam penelitian ini, Chlorella vulgaris dimanfaatkan sebagai agen bioremediasi sekaligus penghasil biomassa. Mikroalga tersebut mengonsumsi senyawa nitrogen, fosfor, kalium, serta mineral lain yang masih terkandung dalam POME.

“Pendekatan kami adalah mengubah tantangan limbah menjadi peluang. Melalui teknologi ini, proses pengolahan limbah dapat sekaligus menjadi unit produksi biomassa, sebuah langkah strategis menuju industri kelapa sawit yang lebih hijau dan berkelanjutan,” ujar salah satu anggota peneliti, dikutip dari laman Fakultas Biologi UGM, Senin (8/9/2025).

Proses bioremediasi ini tidak hanya menurunkan tingkat pencemaran air, tetapi juga menghasilkan biomassa dengan kandungan protein dan lipid. Hasil biomassa tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan lebih lanjut dalam industri berbasis bioteknologi.

Prinsip ekonomi sirkular menjadi dasar dalam riset ini. Limbah yang sebelumnya dianggap beban, diolah menjadi sumber nutrien bagi mikroalga untuk pertumbuhan, sehingga menghasilkan nilai tambah.

Penelitian ini dijalankan melalui kolaborasi dengan Pusat Unggulan Ipteks Perguruan Tinggi (PUIPT) Microalgae Biorefinery UGM. Kolaborasi ini memperkuat arah riset menuju skala industri yang lebih aplikatif.

Arah jangka panjang penelitian adalah mewujudkan konsep biorefinery berbasis mikroalga. Melalui konsep tersebut, pabrik kelapa sawit dapat didorong menuju operasional tanpa limbah atau zero waste.

Model biorefinery ini dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, poin 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta poin 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Dengan pendekatan ini, pengolahan limbah cair sawit tidak lagi hanya berfungsi mengurangi pencemaran, tetapi sekaligus membuka peluang pengembangan produk baru dari biomassa.***

Bagikan :

Artikel Lainnya