
Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi menggelar Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Bandung, Sabtu (9/8/2025). (Foto: Dok. Humas Kemdiktisaintek)
Bandung, HAISAWIT – Transformasi teknologi di sektor perkebunan sawit menjadi salah satu pembahasan dalam sesi paralel Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025, Sabtu (9/8). Tema yang diangkat yaitu “Smart Agriculture 4.0: Integrasi IoT, AI, dan Robotika”.
Institut Pertanian Bogor (IPB) memaparkan riset Sawit 4.0 yang dirancang untuk memberdayakan kebun rakyat. Inovasi ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dan satelit untuk mengelola data secara presisi.
Tahap awal riset dilakukan dengan pemetaan populasi sawit berbasis AI untuk mendapatkan data akurat. Data tersebut menjadi dasar rekomendasi pemupukan yang diproses melalui sistem PRECI PALM.
Sistem ini memanfaatkan data satelit untuk menentukan dosis pemupukan yang tepat. Menurut hasil uji, pendekatan tersebut mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk hingga 20 persen di kebun sawit rakyat.
Eksekusi pemupukan di lapangan dilakukan dengan bantuan mesin presisi FASTREX. Perangkat ini berfungsi sebagai pemupuk sekaligus transporter yang terintegrasi dengan data rekomendasi dari sistem PRECI PALM.
Arif Satria dari IPB menjelaskan bahwa pengembangan teknologi tersebut tidak hanya bermanfaat di dalam negeri, namun juga memiliki dampak lebih luas.
“Jadi, added value dari inovasi-inovasi IPB tidak hanya berpengaruh kepada Indonesia, tetapi juga ke luar negeri,” ujar Arif, dikutip dari laman Kemdiktisaintek, Selasa (12/8/2025).
Selain IPB, pemerintah melalui Direktorat Alat dan Mesin Pertanian Pascapanen juga memaparkan dukungan terhadap adopsi teknologi. Kebijakan tersebut meliputi program pendorong, regulasi, dan dukungan anggaran.
Direktur Alat dan Mesin Pertanian Pascapanen, Opik Ahmad Ropik, menyampaikan bahwa adopsi teknologi modern perlu masukan dari akademisi dan praktisi.
“Adopsi teknologi sangat beragam, oleh karena itu kami mohon masukan ataupun rembuk dari para akademisi dan para praktisi,” ujar Opik.
Opik juga menambahkan pentingnya dukungan terhadap teknologi tepat guna untuk petani.
“Teknologi-teknologi tepat guna yang dapat kita serahkan kepada petani sangat kami dukung supaya peningkatan mutu bisa kita amankan,” ujarnya.
Acara ini turut menghadirkan narasumber dari IPB University, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Sesi panel membahas penerapan smart agriculture dari hulu ke hilir, termasuk pada komoditas strategis seperti kelapa sawit.***