
P2SBPTKP Banjarbaru menggelar Focus Group Discussion integrasi kelapa sawit berkelanjutan dan peternakan sapi di Gedung Idham Chalid, Banjarbaru, Kamis (7/8/2025). (Foto: Dok. P2SBPTKP)
Banjarbaru, HAISAWIT – Pusat Penelitian dan Standardisasi Berbasis Perkebunan, Tanaman Pangan, Kehutanan, dan Pertambangan (P2SBPTKP) Kota Banjarbaru menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema kelapa sawit berkelanjutan dan pengembangan peternakan sapi terintegrasi. Acara berlangsung di Gedung Idham Chalid, Banjarbaru, Kamis (7/8/2025), melibatkan berbagai pihak lintas sektor.
Kegiatan ini membahas strategi pemanfaatan lahan secara efisien melalui integrasi sektor sawit dengan peternakan sapi. Tujuannya mendorong peningkatan produktivitas, menjaga keseimbangan lingkungan, dan memperkuat perekonomian daerah berbasis sumber daya lokal.
Dikutip dari laman Balai Veteriner Banjarbaru, Rabu (13/8/2025), kegiatan tersebut melibatkan perwakilan pemerintah pusat dan daerah, akademisi, peneliti, pelaku industri sawit, asosiasi peternak, serta organisasi masyarakat yang memiliki kepentingan di sektor perkebunan dan peternakan.
Forum ini juga membahas pemanfaatan limbah kelapa sawit untuk pakan ternak, pengembangan model bisnis terintegrasi, serta penggunaan teknologi pendukung yang relevan. Pembahasan dilakukan secara terbuka untuk menghasilkan langkah konkret yang dapat diimplementasikan di lapangan.
Selain itu, topik peluang investasi di sektor perkebunan dan peternakan menjadi perhatian. Hal ini diangkat untuk membuka kesempatan kerja sama yang menguntungkan berbagai pihak, sekaligus memperkuat rantai pasok industri terkait.
Partisipasi Balai Veteriner Banjarbaru dalam FGD tersebut menyorongkan peran penting sektor kesehatan hewan. Keterlibatan ini mendukung pengawasan produk peternakan dalam skema integrasi sawit-sapi yang mengedepankan standar lingkungan.
Acara yang diinisiasi KP2SBPTKP Banjarbaru itu menjadi wadah komunikasi antara pemangku kepentingan. Melalui forum ini, pembahasan teknis dan strategis dapat dilakukan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara seimbang.
Pembahasan berfokus pada penerapan sistem pertanian terpadu yang meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Beberapa ide pengelolaan limbah dan pemanfaatan lahan marginal muncul sebagai opsi untuk diadaptasi di daerah.
Rangkaian diskusi ini menghasilkan sejumlah rekomendasi yang mengacu pada pengalaman di lapangan. Setiap masukan dicatat untuk menjadi bahan penyusunan langkah implementasi integrasi sawit-sapi ke depan.***