IEA dan WRI: Energi Fosil Penyumbang Terbesar Emisi GRK, Bukan Sawit

Isu bahwa sawit biang kerok perubahan iklim terbantahkan. Fakta lapangan menunjukkan sektor energi berbahan fosil menyumbang mayoritas emisi global. Sementara sawit tercatat produktif, efisien lahan, bahkan berpotensi menghasilkan energi terbarukan.

BERITA ARTIKEL

Arsad Ddin

22 Agustus 2025
Bagikan :


Jakarta, HAISAWIT - Isu bahwa kelapa sawit merupakan penyumbang utama emisi gas rumah kaca dipertanyakan setelah data internasional menunjukkan sektor energi berbahan fosil menyumbang porsi terbesar emisi global.

Laporan International Energy Agency dan World Resources Institute memaparkan pembakaran bahan bakar fosil untuk transportasi, industri, dan bangunan sebagai kontributor utama emisi GRK.

Dikutip dari laman GAPKI, Selasa (5/8/2025), WRI mencatat sektor energi menyumbang 73,2 persen dari total emisi GRK global, sementara AFOLU tercatat sekitar 18,4 persen.

Rincian AFOLU pada data tersebut menunjukkan limbah ternak menyumbang 5,8 persen, tanah pertanian 4,1 persen, serta pembakaran lahan 3,8 persen.

Angka lainnya mencatat deforestasi 2,2 persen dan kontribusi hasil tanaman 1,4 persen; ringkasan itu tidak menempatkan perkebunan kelapa sawit sebagai kontributor signifikan.

Kajian Olivier JGJ et al. (2022) dan data IEA memperkuat tren dominasi emisi dari sektor energi berbasis fosil, sejalan dengan temuan WRI pada perhitungan global.

Oil World (2021) mencatat kelapa sawit menghasilkan 4–10 kali lebih banyak minyak per hektare dibanding kedelai, bunga matahari, atau rapeseed, sehingga produktivitas per lahan lebih tinggi.

Studi Wicke et al. (2011) menelaah perubahan penggunaan lahan dan menunjukkan potensi pengurangan tekanan terhadap hutan melalui efisiensi produksi sawit.

Limbah cair dan padat dari pengolahan kelapa sawit dapat diolah menjadi biogas dan biomassa sebagai sumber energi terbarukan.

Biodiesel berbasis sawit, termasuk B35 dan B50, dicatat dalam kajian-kajian yang dirujuk sebagai upaya mengurangi emisi sektor transportasi.

GAPKI merujuk laporan internasional tersebut dan menyampaikan bahwa tuduhan sawit sebagai penyumbang utama emisi tidak didukung data empiris yang dipublikasikan lembaga global.***

Bagikan :

Artikel Lainnya