
Medan, HAISAWIT – Badan Kerja Sama Perusahaan Perkebunan Sumatera (BKS-PPS) menyampaikan pentingnya langkah inovatif dalam merespons dinamika baru industri minyak nabati, terutama meningkatnya produksi kedelai dan rapeseed secara global.
Tren ini dinilai perlu menjadi perhatian industri sawit nasional, mengingat persaingan antarminyak nabati semakin ketat dan permintaan global terus berkembang dengan berbagai tuntutan baru.
Dikutip dari FP BKS-PPS, Senin (28/07/2025), produksi kedelai global dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren kenaikan tajam, dengan proyeksi mampu melampaui volume produksi minyak sawit dalam kurun waktu lima hingga enam tahun mendatang.
Selain itu, pertumbuhan konsumsi minyak nabati dunia juga meningkat, baik untuk pangan, energi, maupun oleokimia. Namun, kompetisi semakin ketat dan pasar menuntut produk yang efisien serta berkelanjutan.
Industri sawit dinilai perlu bergerak lebih adaptif, apalagi tekanan datang dari berbagai arah seperti perlambatan ekonomi, ketegangan geopolitik, dan fluktuasi harga input utama.
Perubahan iklim yang semakin ekstrem juga menjadi tantangan tersendiri. Dampaknya bisa mengganggu panen sawit dan memperumit rencana produksi jangka panjang, terutama di wilayah sentra produksi.
Selain iklim, tantangan regulasi juga muncul melalui kebijakan seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang mengatur ketat impor komoditas berbasis lahan, termasuk sawit.
Kebijakan tersebut berpotensi membatasi akses pasar ekspor utama. Oleh sebab itu, BKS-PPS menilai perlunya penguatan diplomasi dagang dan peningkatan transparansi rantai pasok.
Dalam pemaparan Dirut PalmCo yang dikutip BKS-PPS, strategi jangka panjang sektor sawit meliputi transformasi dari hulu hingga hilir serta terobosan dalam riset dan teknologi.
Upaya tersebut disebut penting agar sawit Indonesia tetap relevan dan kompetitif, di tengah pergeseran pasar global menuju minyak nabati alternatif seperti kedelai dan rapeseed.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri sawit Indonesia perlu bergerak lebih adaptif dalam menghadapi tekanan global, baik dari sisi persaingan antarminyak nabati maupun tuntutan pasar yang semakin menekankan aspek keberlanjutan dan efisiensi.***