
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono. (Foto: Doc. GAPKI)
Jakarta, HAISAWIT – Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) kembali menguat di pasar global. Pada perdagangan Rabu (8/10/2025), harga kontrak CPO di Bursa Malaysia untuk pengiriman Desember ditutup di level MYR 4.546 per ton.
Kenaikan ini menandai posisi tertinggi dalam hampir dua bulan terakhir dan mencerminkan meningkatnya permintaan global di tengah stagnasi produksi di dua negara produsen utama dunia, Indonesia dan Malaysia.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menjelaskan, kondisi stagnasi produksi menjadi faktor dominan yang mendorong penguatan harga CPO saat ini.
“Harga CPO tinggi karena kedua produsen besar dunia, Indonesia dan Malaysia, produksinya stagnan, sementara permintaan terus meningkat,” ujar Eddy, dikutip dari laman GAPKI, Minggu (12/10/2025).
Eddy menambahkan, potensi kenaikan harga masih terbuka jika pemerintah Indonesia benar-benar menerapkan kebijakan biodiesel B50, yakni campuran 50 persen minyak nabati dalam bahan bakar solar.
“Mandatory B50 belum ada kepastian dari pemerintah. Namun kalau diterapkan dalam kondisi saat ini, ekspor akan berkurang dan otomatis harga minyak sawit dunia ikut naik,” ujarnya.
Program B50 disebut-sebut dapat memperkuat konsumsi domestik sekaligus mengurangi pasokan ekspor, yang berdampak langsung terhadap pergerakan harga sawit di pasar internasional.
Dalam sepekan terakhir, harga CPO tercatat naik 3,55 persen secara point-to-point. Sementara secara bulanan meningkat 1,45 persen, dan sejak awal tahun telah menguat sekitar 2,3 persen.
Trader global Dorab Mistry turut memberikan pandangan terkait potensi lonjakan harga sawit jika kebijakan tersebut dijalankan oleh Indonesia.
“Jika Indonesia menjalankan B50, maka akan terjadi kelangkaan di pasar dunia dan harga akan meroket,” ungkap Mistry kepada Bloomberg News.
Dengan posisi Indonesia sebagai produsen sekaligus eksportir CPO terbesar dunia, kebijakan energi hijau seperti B50 diperkirakan akan mengubah peta pasokan global dan membawa dampak signifikan terhadap arah harga sawit ke depan.***