
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian membahas kebijakan wajib sertifikasi ISPO bagi seluruh rantai industri sawit dalam diskusi publik bertema “Peran Industri Sawit dalam Perekonomian Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” di Gedung Tempo, Jakarta, Selasa (4/11/2025). (Foto: Humas Bid Perekonomian)
Jakarta, HAISAWIT – Pemerintah memperkuat arah pembangunan berkelanjutan sektor sawit dengan menetapkan kewajiban sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi seluruh rantai industri, dari perkebunan hingga sektor hilir.
Kebijakan tersebut menjadi langkah strategis menuju tata kelola sawit yang transparan, efisien, dan berkeadilan dalam mendukung target Indonesia Emas 2045. Isu ini dibahas dalam diskusi publik “Peran Industri Sawit dalam Perekonomian Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” di Gedung Tempo, Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera, menjelaskan bahwa kebijakan ISPO kini menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan industri sawit nasional.
“ISPO ini bersifat wajib. Bagi pekebun kecil, sertifikasi akan diberikan masa transisi empat tahun, dengan biaya yang seluruhnya ditanggung pemerintah,” ujar Dida, dikutip dari laman rri.co.id, Kamis (6/11/2025).
Ia menambahkan, kewajiban sertifikasi tersebut diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2025. Melalui aturan itu, pemerintah memperkuat tata kelola sawit nasional agar lebih transparan dan dapat ditelusuri asal-usul lahannya.
Dida menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki sekitar 16,38 juta hektare lahan sawit dengan proporsi 53 persen dikelola swasta, enam persen oleh BUMN, dan 41 persen oleh petani swadaya.
Menurutnya, peran petani swadaya sangat besar dalam mendukung keberlanjutan industri sawit. Pemerintah berkomitmen meningkatkan produktivitas melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang diharapkan memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan petani.
“Melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), produktivitas diharapkan bisa naik dua hingga tiga kali lipat dalam empat tahun ke depan,” ujar Dida.
Selain itu, Dida menilai keunggulan sawit dibandingkan minyak nabati lain terletak pada tingkat produktivitasnya. Sawit dinilai menjadi solusi berkelanjutan dalam pemenuhan kebutuhan energi dan bahan pangan global.
“Sawit adalah komoditas dengan produktivitas lahan terbaik di dunia dan menjadi pilihan paling berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati global,” katanya.
Dida juga menyebutkan bahwa penguatan sistem informasi ISPO akan memastikan keterlacakan lahan sawit yang tersertifikasi. Setiap kebun yang memenuhi standar ISPO akan diverifikasi bebas dari kawasan hutan dan tidak tumpang tindih.***