
Prototipe NIR Portabel, Prof I Wayan Budiastra dan Tim. (Sumber: IPB University)
Bogor, HAISAWIT - Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Prof I Wayan Budiastra, memperkenalkan inovasi teknologi Near Infrared Spectroscopy (NIR) yang dapat digunakan untuk mengukur kadar lemak sawit dengan akurasi tinggi.
Prof Budiastra menjelaskan, riset ini telah dikembangkannya selama lebih dari dua dekade. Teknologi NIR dipandang mampu menjadi solusi bagi petani maupun eksportir yang selama ini terkendala biaya dan lamanya pemeriksaan mutu di laboratorium.
“Inovasi ini muncul dari kebutuhan untuk memenuhi tuntutan mutu di pasar global, mempersingkat waktu proses analisis mutu produk, sekaligus mengurangi biaya dan penggunaan bahan kimia,” ujar Prof Budiastra, dikutip dari laman IPB University, Selasa (23/9/2025).
Selama ini, pemeriksaan mutu produk sawit dan komoditas ekspor lain umumnya dilakukan melalui uji kimia di laboratorium. Proses tersebut memakan waktu 1–2 minggu dengan biaya mencapai Rp200.000–Rp500.000 per sampel.
Dengan penerapan teknologi NIR, analisis mutu dapat dilakukan lebih cepat tanpa merusak sampel. Metode ini dinilai lebih kompetitif, sekaligus memberikan keuntungan bagi kelompok tani maupun industri kecil yang ingin memenuhi standar pasar global.
“Pengembangan teknologi ini dirancang agar dapat diimplementasikan pada kelompok tani, koperasi, industri, maupun eksportir,” jelas Prof Budiastra.
Selain NIR, ia juga mengembangkan sejumlah teknologi lain seperti ultrasonik dan Electrical Impedance Spectroscopy (EIS). Keduanya masih dalam tahap prototipe, namun menunjukkan potensi besar untuk memprediksi kualitas internal buah sawit.
Tak hanya itu, Prof Budiastra memperkenalkan alat portabel berbasis UV-VIS-NIR yang difokuskan untuk mendeteksi kematangan buah sawit di lapangan. Alat ini dikembangkan agar praktis digunakan langsung di kebun sawit.
“Alat ini bisa mencapai akurasi 100 persen dengan bantuan kecerdasan buatan berbasis machine learning,” ungkapnya.
Penelitian terbaru yang dilakukan juga mengkaji penerapan sensor untuk sortasi tandan buah segar sawit. Langkah ini ditujukan bagi industri crude palm oil (CPO) agar dapat meningkatkan efisiensi produksi.
“Dengan penerapan teknologi ini, daya saing komoditas unggulan dapat meningkat, sekaligus mendongkrak pendapatan petani dan industri kecil,” kata Prof Budiastra.
Dalam paparannya, Prof Budiastra turut menampilkan riset pengolahan hasil berbasis gelombang elektromagnetik seperti ultrasound assisted extraction (UAE) hingga Greenhouse Effect Dryer. Teknologi tersebut menjadi bagian dari rangkaian inovasi yang diujicobakan pada berbagai komoditas termasuk sawit.***