Ekspor Sawit Juni 2025 Melonjak 35,37 Persen, Dorong Kinerja Devisa Negara

Ekspor produk sawit Indonesia pada Juni 2025 mencatat lonjakan signifikan 35,37 persen. Data GAPKI menunjukkan volume ekspor mencapai 3.606 ribu ton, menjadi penopang utama devisa nonmigas dan memperkuat surplus perdagangan nasional.

BERITA

Arsad Ddin

5 September 2025
Bagikan :


Jakarta, HAISAWIT - Ekspor produk sawit Indonesia pada Juni 2025 mencatat kenaikan signifikan sebesar 35,37 persen. Berdasarkan data GAPKI, volume ekspor mencapai 3.606 ribu ton dengan kontribusi besar dari minyak sawit olahan dan CPO.

Pertumbuhan ekspor sawit ini memberikan dukungan kuat terhadap surplus neraca perdagangan nonmigas. Industri sawit menjadi salah satu sektor kunci yang menjaga stabilitas devisa nasional.

Dikutip dari laman BPDP, Jumat (5/9/2025), kenaikan ekspor minyak sawit olahan mencapai 32,13 persen atau sekitar 2.599 ribu ton. Sementara itu, ekspor CPO meningkat tajam hingga 155,67 persen menjadi 418 ribu ton pada periode yang sama.

Data GAPKI menunjukkan kontribusi sawit bukan hanya pada ekspor, tetapi juga dalam menjaga perimbangan neraca perdagangan. Tanpa ekspor sawit, neraca perdagangan nonmigas berpotensi mengalami defisit yang membebani perekonomian Indonesia.

Selain itu, penggunaan biodiesel berbasis sawit membantu menekan defisit perdagangan migas. Kebijakan mandatori biodiesel yang ditingkatkan hingga B40 pada tahun 2025 menjadi langkah penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Pemerintah telah menetapkan alokasi biodiesel sebanyak 15,6 juta kiloliter pada tahun ini. Dari jumlah tersebut, 7,55 juta kiloliter untuk public service obligation (PSO), sedangkan 8,07 juta kiloliter dialokasikan untuk non-PSO.

Peran sawit tidak hanya sebatas sektor energi dan ekspor. Data Kementerian Pertanian mencatat, industri sawit menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja sepanjang 2024, dengan 9,7 juta tenaga kerja langsung dan sisanya tenaga kerja tidak langsung.

Kontribusi besar juga terlihat pada sektor ekonomi kerakyatan. Usaha kecil dan menengah di desa turut berkembang melalui keterlibatan dalam rantai pasok sawit, mulai dari transportasi TBS, penyedia pupuk, hingga kebutuhan logistik karyawan perkebunan.

Selain itu, keberadaan industri hilir sawit seperti oleokimia, oleofood, dan bioenergi menambah penyerapan tenaga kerja dalam jumlah signifikan. Industri ini menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Secara keseluruhan, data GAPKI menunjukkan peran strategis sawit bagi perekonomian nasional. Lonjakan ekspor pada Juni 2025 semakin memperkuat posisi sawit sebagai penghasil devisa terbesar bagi Indonesia.***

Bagikan :

Artikel Lainnya