Di Tengah Rimbun Sawit, Kisah Guru Honorer di Kapuas Tak Pernah Lelah Mendidik Anak Bangsa

Di tengah hamparan perkebunan sawit di Kapuas, seorang guru honorer tetap setia mendidik anak-anak desa. Jalan berbatu dan licin di kawasan sawit tidak menghalangi kehadirannya di kelas, membimbing generasi muda dengan metode pembelajaran berbasis lingkungan.

BERITA

Arsad Ddin

25 September 2025
Bagikan :

Lenie, guru honorer di SD Negeri 1 Harapan Jaya, setiap hari menempuh perjalanan melalui perkebunan sawit di Kapuas untuk mengajar anak-anak desa, menghadirkan pendidikan meski medan dan kondisi lingkungan penuh tantangan. (Foto: Puslapdik Kemendikdasmen)

Jakarta, HAISAWIT – Di tengah luasnya perkebunan sawit di Kapuas, Kalimantan Tengah, Lenie, seorang guru honorer di SD Negeri 1 Harapan Jaya, menunjukkan dedikasi tinggi. Setiap hari, ia mengabdi untuk memastikan anak-anak desa memperoleh pendidikan meski menghadapi berbagai tantangan.

Setiap pagi, ia menempuh perjalanan sejauh 11 hingga 12 kilometer dari Desa Manusup ke Desa Harapan Jaya. Jalur yang dilalui melewati kawasan sawit dengan kondisi jalan tanah berbatu, licin, dan rawan banjir saat musim hujan.

Perjalanan menuju sekolah kerap menghadapi rintangan. Lenie mengendarai sepeda motor dengan penuh kehati-hatian melewati jalan tanah dan kebun sawit yang basah saat hujan. Pada beberapa kesempatan, ia memilih menginap di rumah dinas sekolah agar tetap hadir mengajar.

“Jika hujan turun deras, saya harus ekstra hati-hati agar tidak terjatuh,“ ujar Lenie, dikutip dari Laman Puslapdik Kemendikdasmen, Kamis (25/9/2025).

Selama lima tahun, Lenie mengampu hampir semua mata pelajaran, kecuali PJOK dan agama. Selain menjadi pengajar, ia juga dipercaya sebagai wali kelas. Tugas itu dijalankannya di sekolah yang berdiri di tengah kawasan perkebunan sawit.

“Saya ingin memastikan tetap bisa hadir di kelas setiap hari dan tanpa membuat anak-anak kehilangan kesempatan belajar,“ kata Lenie.

Pada tahun 2023, ia memperoleh Tunjangan Khusus Guru (TKG) karena Kecamatan Mantangai masuk kategori daerah khusus. Tunjangan tersebut digunakan untuk kebutuhan pembelajaran, mulai dari membeli buku hingga mengikuti pelatihan daring.

“Dengan memperoleh TKG, saya bisa meningkatkan kompetensi dan lebih fokus menjalankan tugas sebagai pendidik tanpa terlalu terbebani masalah finansial,“ ucapnya.

Di sela rutinitasnya, Lenie sedang menjalani Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Borneo Tarakan. Ia menempuh tahapan ujian kinerja dan praktik mengajar di kelas untuk meningkatkan kompetensi.

“InsyaAllah sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir dan tahun 2026 bisa memperoleh sertifikat pendidik,“ jelasnya.

Lenie juga berupaya membuat pembelajaran kontekstual sesuai potensi lokal di sekitar kebun sawit.

“Salah satunya, saya meminta siswa membuat karya dari bahan-bahan alam sekitar, sehingga mereka belajar sambil mengenal lingkungan,“ katanya.

Dukungan dari orang tua dan masyarakat sekitar sekolah turut menguatkan langkahnya.

“Mereka juga aktif dalam forum-forum komite sekolah dan mendukung program-program literasi yang kami jalankan,“ tutur Lenie.***

Bagikan :

Artikel Lainnya