PASPI: Sawit Mampu Serap Karbon Hingga 64,5 Ton per Hektare per Tahun

PASPI mencatat perkebunan kelapa sawit mampu menyerap karbon hingga 64,5 ton per hektare per tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan hutan tropis yang rata-rata hanya menyerap 25 ton per hektare per tahun. Selain itu, biaya penyerapan karbon oleh sawit hanya berkisar US$5–15 per ton, jauh lebih murah dibanding teknologi direct air capture yang mencapai US$500–1.000 per ton.

BERITA ARTIKEL

Arsad Ddin

25 September 2025
Bagikan :

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit. Riset menunjukkan sawit mampu menyerap karbon hingga 64,5 ton per hektare per tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan hutan tropis yang rata-rata hanya mencapai 25 ton karbon per hektare per tahun. (Foto: BPDP)

Jakarta, HAISAWIT - Perubahan iklim global telah menjadi perhatian dunia. Upaya mitigasi dilakukan melalui pengurangan emisi dan peningkatan serapan karbon. Sawit dipandang memiliki potensi besar sebagai penyerap karbon alami paling efisien.

PASPI menjelaskan, tanaman kelapa sawit menyerap karbon dioksida dari atmosfer melalui fotosintesis asimilasi. Proses ini menyimpan karbon dalam bentuk biomassa, baik di atas tanah maupun di bawah tanah selama siklus hidupnya.

Dikutip dari BPDP, Kamis (25/9/2025), sawit mampu menyerap karbon hingga 64,5 ton per hektare per tahun. Studi Fortasbi mencatat batang sawit berusia 25 tahun menyimpan 29,13 ton karbon per hektare dari total 39,94 ton.

Perbandingan menunjukkan, hutan tropis rata-rata hanya mampu menyerap sekitar 25 ton karbon per hektare per tahun. Kapasitas sawit lebih tinggi karena tanaman berada pada fase pertumbuhan aktif dengan laju fotosintesis yang optimal.

Biaya penyerapan karbon oleh sawit berkisar US$5 hingga US$15 per ton atau sekitar Rp82 ribu sampai Rp246 ribu. Sebaliknya, teknologi direct air capture membutuhkan biaya US$500 hingga US$1.000 per ton karbon.

Teknologi DAC juga memerlukan energi sekitar 1.500 sampai 2.500 kWh per ton CO₂. Sementara sawit hanya memanfaatkan energi matahari melalui proses fotosintesis, sehingga dianggap lebih efisien dibanding teknologi buatan tersebut.

Karakteristik sawit menjadikannya tanaman penyerap karbon unggul. Pertumbuhan cepat, kanopi lebar, produksi tinggi, siklus hidup panjang, serta perakaran dalam membuat sawit mampu menyimpan karbon secara berkelanjutan.

Menurut PASPI Monitor, kemampuan agregat sawit sangat signifikan jika dihitung berdasarkan luas perkebunan di Indonesia. Jumlah serapan karbon dari perkebunan sawit memberikan kontribusi besar dalam menurunkan emisi.

Fakta lain menunjukkan perkebunan sawit berfungsi sebagai penyerap karbon bersih atau carbon sink. Peran tersebut menjadikan sawit termasuk dalam solusi alami mitigasi perubahan iklim di tingkat global.

Selain menyerap karbon, perkebunan sawit juga mengurangi emisi dengan menggantikan energi fosil melalui biofuel sawit. Dua mekanisme ini membuat kontribusi sawit berlapis dalam upaya mengurangi gas rumah kaca.***

Bagikan :

Artikel Lainnya