
Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat mendampingi delegasi ekonomi Jerman dalam kegiatan pemantauan rantai pasok sawit berkelanjutan di Pontianak, Rabu (29/10/2025). (Foto: Disbunnak Kalbar)
Pontianak, HAISAWIT – Delegasi ekonomi Jerman memberikan apresiasi terhadap langkah Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dalam memperkuat rantai pasok sawit berkelanjutan yang dinilai sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan standar internasional.
Apresiasi itu disampaikan saat kunjungan kerja untuk meninjau langsung pelaksanaan program perkebunan sawit dan karet di wilayah Kalimantan Barat, Rabu (29/10/2025).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kerja sama ekonomi antara Pemerintah Jerman dan Pemerintah Provinsi Kalbar dalam meningkatkan kapasitas pekebun melalui pendampingan teknis dan penerapan budidaya berkelanjutan.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Heronimus Hero, menjelaskan bahwa kolaborasi ini juga diarahkan untuk memperkuat pengelolaan komoditas unggulan daerah dengan prinsip ramah lingkungan.
"Agenda kunjungan melihat secara langsung rantai pasok komoditi perkebunan khususnya karet dan kelapa sawit yang berkelanjutan sekaligus sesuai dengan regulasi EUDR. Wamen Jerman tersebut juga telah melakukan kunjungan ke Gubernur Kalbar," ujar Heronimus Hero, dikutip dari laman Disbunnak, Jumat (31/10/2025).
Ia menambahkan, kerja sama dengan Jerman meliputi peningkatan kemampuan kelompok pekebun, terutama dalam memahami dan menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) atau praktik pertanian yang baik.
"Langkah kerjasama muai pendataan pekebun dan penguatan rantai pasok pemasaran. Petani atau pekebun ditingkatkan kapasitasnya dalam hal GAP," ujarnya.
Heronimus menjelaskan bahwa GAP mencakup prinsip-prinsip penting mulai dari pengelolaan lahan, penggunaan bibit unggul, hingga penerapan pengendalian hama terpadu secara terukur dan tercatat.
"Aspek GAP mencakup berbagai hal. Intinya untuk GAP merupakan praktik pertanian yang baik adalah seperangkat prinsip dan standar yang dirancang untuk memastikan produksi pertanian yang berkelanjutan, aman, dan berkualitas," jelasnya.
Ia menambahkan, penerapan GAP juga menjadi bagian penting dari upaya petani sawit di Kalbar agar mampu memenuhi ketentuan pasar global yang menuntut transparansi dan keberlanjutan produksi.
"Dengan menerapkan GAP harapanya petani dapat meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi dampak lingkungan dan memenuhi standar keamanan pangan yang tinggi," ungkap Heronimus.
Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar berupaya menjaga konsistensi program tersebut agar penguatan rantai pasok sawit berkelanjutan semakin mendorong peran petani lokal dalam sistem produksi yang sesuai dengan standar EUDR dan praktik global.***