

Indonesia Palm Oil Research & Innovation Conference & Expo (IPORICE) 2025 menampilkan inovasi sawit berkelanjutan dan strategi memperkuat posisi Indonesia di pasar global. Kegiatan ini berlangsung di Jakarta, Kamis (2/10/2025). (Foto: Dok. Humas BRIN)
Jakarta, HAISAWIT – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong lahirnya inovasi sawit berkelanjutan melalui gelaran Indonesia Palm Oil Research & Innovation Conference & Expo (IPORICE) 2025. Forum ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemain sentral dalam pasar sawit global.
Deputi Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Musdhalifah Machmud, menilai setiap langkah Indonesia sangat memengaruhi dinamika global. Menurutnya, kebijakan atau inovasi yang lahir dari Indonesia selalu menjadi acuan utama dalam industri sawit internasional.
“Palm oil tidak bisa dilepaskan dari Indonesia. Setiap langkah kecil Indonesia berdampak besar pada kondisi sawit dunia,” ujar Musdhalifah, dikutip dari laman BRIN, Minggu (5/10/2025).
Musdhalifah menambahkan, dinamika industri sawit global sangat bergantung pada gerak Indonesia. Ia menegaskan bahwa setiap kebijakan nasional memiliki dampak besar yang terasa hingga pasar minyak nabati internasional.
“Satu hal yang menjadi catatan bahwa palm oil tidak akan bisa apa-apa tanpa dinamika Indonesia. Indonesia bergerak sedikit, akan terjadi keributan mengenai kondisi kelapa sawit dunia,” ucapnya.
Ia juga menyinggung isu deforestasi yang kerap dikaitkan dengan sawit. Musdhalifah menyampaikan data luas hutan di negara-negara produsen sawit masih signifikan, termasuk di Indonesia dan Malaysia, yang menunjukkan kelestarian tetap terjaga.
“Kita harus yakin betul bahwa kelapa sawit itu bukan penyebab deforestasi. Buktinya negara-negara produsen kelapa sawit bisa menjaga hutannya. Kalau kita lihat, total area-nya, baik Indonesia pun Malaysia, luas hutannya masih 63% (Indonesia) dan 62% (Malaysia). Ini untuk status hutan di negaranya. Kemudian Thailand produsen nomor 4 di dunia, hutannya masih ada 37%,” jelasnya.
Selain isu lingkungan, Musdhalifah menegaskan bahwa sawit kini telah bertransformasi menjadi produk hijau. Pemanfaatan limbah sawit, menurutnya, telah berkembang luas, mulai dari energi terbarukan hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
“Minyak sawit adalah produk ramah lingkungan bagi negara kita. Karena kita sudah memanfaatkan nol limbah, kemudian produktivitas, efektivitas kita terus kembangkan,” terangnya. Artinya berkelanjutan, untuk produk minyak sawit ini untuk minyak nabati, energi, bahkan sudah sampai ke SAF, Sustainable Aviation Fuel untuk pesawat. Itu semua sudah kita selenggarakan,” ujarnya.
Melalui IPORICE 2025, Musdhalifah juga menekankan pentingnya kerja sama berbasis bukti. Ia menyebut riset yang dilakukan BRIN menjadi landasan kuat bagi pengembangan industri sawit berkelanjutan di masa depan.
“Kami di CPOPC mengajak untuk bekerja sama dengan BRIN supaya apa yang kami sampaikan berbasis bukti. Kita ingin kelapa sawit kita jaya sampai dengan 100 tahun mendatang. Jayalah kelapa sawit! BRIN harus ada bersama kejayaan kelapa sawit di masa depan,” katanya.
Konferensi IPORICE 2025 juga menegaskan posisi Indonesia sebagai pusat inovasi riset sawit global. Temuan ilmiah dari para peneliti tanah air kerap menjadi rujukan internasional, baik dalam pembahasan isu keberlanjutan maupun arah pengembangan industri sawit dunia.***