Inovasi CRF Berbasis Zeolit Tingkatkan Hasil Sawit hingga 15 Persen Dibanding Pupuk Konvensional

Inovasi pupuk NPK–Zeolit berbasis Controlled Release Fertilizer (CRF) dinilai mampu meningkatkan hasil sawit hingga 15 persen. Guru Besar IPB University, Prof Suwardi, menegaskan teknologi ini menjadi kunci pemulihan lahan marginal di Indonesia.

BERITA HAI INOVASI SAWIT

Arsad Ddin

31 Agustus 2025
Bagikan :


Bogor, HAISAWIT - Pengembangan inovasi pupuk NPK–Zeolit dengan Controlled Release Fertilizer (CRF) dinilai mampu meningkatkan hasil berbagai komoditas, termasuk kelapa sawit. Produktivitasnya bahkan mencapai 10–15 persen lebih tinggi dibandingkan pupuk konvensional.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Suwardi, menjelaskan inovasi pupuk ini menjadi bagian dari terobosan teknologi tanah. Menurutnya, teknologi ini penting dalam pemulihan lahan marginal yang jumlahnya sangat luas di Indonesia.

Ia menegaskan kondisi daratan nasional masih menghadapi kendala serius dalam produktivitas.

“Saat ini, hampir 82 persen daratan Indonesia atau sekitar 157 juta hektare tergolong lahan marginal dengan produktivitas rendah akibat kendala fisik, kimia, dan biologi tanah,” ujar Prof Suwardi, dikutip dari laman IPB, Minggu (31/8/2025).

Menurutnya, penerapan teknologi tanah menjadi langkah penting dalam mendukung sistem pertanian regeneratif. Sistem ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga kesuburan dan kelestarian lingkungan dalam jangka panjang.

“Teknologi ini sangat membantu memulihkan hara pada tanah masam dan memulihkan degradasi bahan organik. Pengelolaannya juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman sehingga tercapai efisiensi nutrisi yang lebih baik,” jelasnya.

Selama lebih dari dua dekade penelitian, Prof Suwardi menghasilkan berbagai inovasi untuk pemulihan tanah. Beberapa di antaranya meliputi pemanfaatan kompos, kapur, biochar, bahan humat, hingga zeolit yang dipadukan secara tepat.

Penerapan kombinasi teknologi ini terbukti memberikan hasil nyata di lapangan.

“Teknologi ini terbukti meningkatkan hasil padi di tanah sulfat masam di Jambi dari 1–2 ton/ha menjadi 5–6 ton/ha, serta mengoptimalkan lahan gambut dan bekas tambang untuk kelapa, kelapa sawit, dan hutan tanaman industri,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya dukungan lintas sektor agar pemanfaatan teknologi tanah bisa diterapkan secara luas. Dukungan ini mencakup aspek kebijakan, industri, dan partisipasi aktif petani.

“Kuncinya adalah memadukan inovasi teknologi tanah, kemauan politik, dukungan industri, dan partisipasi aktif petani,” kata Prof Suwardi.

Ia juga menyinggung pentingnya kolaborasi dalam pengelolaan perkebunan sawit, terutama di lahan gambut.

“Petani lokal juga mesti berkolaborasi dengan perusahaan besar, misalnya pada pengelolaan kebun sawit di lahan gambut agar posisinya tidak tersingkirkan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Prof Suwardi menyampaikan pesan tentang nilai strategis kesehatan tanah.

“Kesehatan tanah adalah cerminan kesehatan bangsa. Tanah yang sehat menghasilkan pangan berkualitas, mensejahterakan petani, dan memperkuat kedaulatan pangan,” pungkasnya.***

Bagikan :

Artikel Lainnya