Ahli Peternakan UGM: Bungkil Inti Sawit Bisa Kurangi Ketergantungan Impor Kedelai

Ahli peternakan Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bungkil inti sawit memiliki potensi besar sebagai pakan alternatif unggas. Pemanfaatannya diproyeksikan mampu menekan penggunaan kedelai impor yang selama ini menjadi bahan baku utama pakan ternak nasional.

BERITA HAI INOVASI SAWIT

Arsad Ddin

26 Agustus 2025
Bagikan :

Bungkil Inti Sawit (Foto: ugm.ac.id)

Yogyakarta, HAISAWIT - Bungkil inti sawit dinilai potensial sebagai bahan pakan tambahan unggas. Informasi itu disampaikan pada kegiatan Fapet Menyapa yang digelar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Peneliti Laboratorium Ilmu Makanan Ternak (IMT) Fapet UGM, Prof. Dr. Ir. Zuprizal, DEA., IPU., ASEAN Eng., menjelaskan bungkil inti sawit adalah limbah minyak inti sawit dengan kandungan protein kasar sekitar 14–19 persen.

Zuprizal menyebutkan produksi pakan tahunan di Indonesia sekitar 20 juta ton. Proporsi optimal pemakaian bungkil inti sawit pada formulasi pakan ayam broiler adalah 10 persen dengan koreksi asam amino esensial dan suplementasi enzim.

“Ada potensi penggunaan bungkil inti sawit sebagai pakan ayam broiler sekitar 2 juta ton,” ujar Zuprizal, dikutip dari laman UGM, Selasa (26/8/2025).

Ia memaparkan, penggunaan 10 persen bungkil inti sawit dalam pakan membutuhkan penambahan asam amino esensial dan enzim agar nilai nutrisinya tercapai sesuai kebutuhan ayam broiler.

Menurut paparan tersebut, pemakaian bungkil inti sawit berpeluang mengurangi penggunaan jagung sekitar 9 persen dan bungkil kedelai sekitar 3 persen pada formulasi pakan ayam broiler.

Ia menambahkan, pemanfaatan bungkil inti sawit pada pakan juga dikaitkan dengan potensi penghematan menurut paparan dalam forum tersebut.

“Jika dimanfaatkan akan ada penghematan apalagi kita tahu bungkil kedelai saat ini masih impor,” katanya.

Terkait enzim, ia menyebut kebutuhan suplementasi meliputi mananase, NSPase, dan protease. Penambahan enzim tersebut dihubungkan dengan peningkatan produktivitas, kualitas karkas, dan kesehatan saluran cerna ayam broiler.

Dalam kesempatan yang sama, tim Lab IMT memaparkan contoh penelitian imbuhan pakan berbasis nano, seperti nano teknologi ekstrak kunyit, nano teknologi ekstrak kapulaga, nano emulsion minyak atsiri serai, serta ekstrak daun sirsak.

Sebagai informasi, kegiatan Fapet Menyapa ini terlaksana pada awal tahun, Jumat (24/1/2025). Kegiatan ini diikuti akademisi Fakultas Peternakan UGM, antara lain Prof. Dr. Ir. Kustantinah, DEA., Dr. Aji Praba Baskara, Nanung Danar Dono, Ph.D., Dr. Insani Hubi Zulfa, dan Dr. Aeni Nur Latifah.***

Bagikan :

Artikel Lainnya