
Ilustrasi Perkebuna Sawit - HaiSawit/Arsad Ddin
Jakarta, HAI SAWIT - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meneliti pemanfaatan pelepah kelapa sawit dan biomassa lokal menjadi bio-oil, gas, biochar, serta senyawa kimia industri melalui teknologi termokimia.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Dieni Mansur, memaparkan hasil risetnya dalam Orasi Ilmiah Profesor Riset bertajuk “Optimalisasi Termokimia sebagai Solusi Strategis Konversi Biomassa Menjadi Biofuel dan Bahan Kimia Berkelanjutan”.
Dieni menjelaskan bahwa teknologi termokimia, terutama pirolisis dan hidrotermal likuifaksi (HTL), mampu mengubah biomassa lignoselulosa menjadi bio-oil, gas, dan biochar.
“Biomassa yang melimpah dan belum termanfaatkan secara optimal dapat dikonversi melalui teknologi termokimia menjadi bio-oil, gas, biochar, dan panas”, ujar Dieni Mansur, dikutip dari laman BRIN, Jumat (12/12/2025).
Pirolisis modern menggunakan reaktor seperti fixed bed, fluidized bed, hingga auger untuk menghasilkan tiga fraksi utama: bio-oil, biochar, dan gas. Proses ini dapat memproduksi bio-oil hingga 75 persen.
HTL cocok untuk biomassa berkadar air tinggi, seperti alga, black liquor, atau lumpur biomassa. Proses ini menggunakan air pada suhu 250–374 °C dan tekanan 20–250 bar sebagai reaktan sekaligus katalis.
Dieni menyoroti potensi biomassa lokal. Pirolisis kulit kakao menghasilkan 51 persen asap cair yang mengandung asam karboksilat dan keton. Ampas biji kapulaga menghasilkan 52 persen asap cair kaya asam asetat, metanol, dan hidroksiaseton.
Sekam padi dan ranting kayu putih juga terbukti menghasilkan fraksi kaya asam asetat, fenol, hidroksiaseton, dan senyawa aromatik. Suhu pirolisis memengaruhi dominasi senyawa, 400 °C dominan aldehid dan furan, sedangkan 600 °C dominan fenol dan alkilfenol.
Dengan katalis zirkonia oksida besi, asap cair dapat diolah lebih lanjut. “Reaksi katalitik menghasilkan masing-masing 18 persen aseton dan metil etil keton. Senyawa ini banyak digunakan dalam industri pelarut, resin, antiseptik, hingga farmasi,” jelas Dieni.
Inovasi ko-pirolisis biomassa dengan limbah plastik terbukti meningkatkan kualitas dan rendemen bio-oil. “Ko-pirolisis cangkang sawit dengan PE atau PET menghasilkan bio-oil bernilai kalor 32–34 MJ/kg,” terang Dieni.
Campuran pelepah kelapa sawit dengan polistirena mampu menghasilkan fraksi setara bensin dan diesel, dengan perolehan bio-oil hingga 80 persen pada rasio tertentu. Bio-oil hasil ko-pirolisis juga berpotensi sebagai aditif bahan bakar, meningkatkan oktan bensin dari 90 menjadi 91,5.
Asap cair dari pirolisis memiliki manfaat luas. Kandungan asam asetat dan fenol menjadikannya antibakteri dan antioksidan. Penggunaan 5 persen asap cair pada edible film mampu memperpanjang masa simpan buah.***