Biodiesel Sawit Jadi Penggerak Utama Penurunan Emisi 400 Kali Lipat dalam Satu Dekade Terakhir

Biodiesel Sawit menjadi pendorong utama penurunan emisi nasional setelah kebijakan mandatori diterapkan. Data menunjukkan pencapaian pengurangan emisi melonjak 400 kali lipat dalam sepuluh tahun, menguatkan posisi sawit dalam transisi energi rendah emisi.

HAI PRODUK SAWIT ARTIKEL

Arsad Ddin

30 November 2025
Bagikan :

Gambar Ilustasi - gapki.id

Jakarta, HAI SAWIT – Biodiesel Sawit mencatat peran signifikan dalam penurunan emisi nasional sepanjang sepuluh tahun terakhir, seiring meningkatnya pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai pengganti solar fosil di sektor energi dan transportasi.

Penerapan mandatori biodiesel menjadikan Biodiesel Sawit sebagai salah satu instrumen energi bersih dengan dampak pengurangan emisi yang terukur, terutama sejak kebijakan B30 mulai berjalan di seluruh wilayah Indonesia.

Dilansir dari laman Gapki, Minggu (30/11/2025), penghematan emisi meningkat dari sekitar 592,3 ribu ton CO₂ ekuivalen pada 2010 menjadi 22,3 juta ton CO₂ ekuivalen pada 2020. Lonjakan ini dipandang sebagai capaian terbesar dalam kontribusi energi berbasis sawit.

Peningkatan tersebut membuat Biodiesel Sawit berada di posisi strategis dalam mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca, khususnya pada sektor energi yang selama ini menjadi penyumbang emisi cukup besar.

Perubahan signifikan dalam satu dekade ini tidak lepas dari karakteristik Biodiesel Sawit yang lebih bersih terbakar, tidak beracun, terbarukan, dan dinilai sesuai kebutuhan transisi energi rendah emisi nasional.

Kontribusi ini juga berkaitan dengan target penurunan emisi melalui dokumen NDC, di mana Indonesia menargetkan reduksi 29 persen secara mandiri dan 41 persen dengan dukungan internasional hingga 2030.

Pada sektor energi dan transportasi, target pengurangan emisi tahun 2020 ditetapkan sebesar 0,038 Giga Ton CO₂ ekuivalen, sedangkan adopsi B30 disebut mampu memenuhi sekitar 59 persen dari target tersebut.

Transformasi industri sawit dalam pengembangan energi hijau turut mendorong posisi Biodiesel Sawit sebagai elemen penting dalam upaya pemenuhan target iklim serta pemanfaatan sumber energi terbarukan.

Pemanfaatan biodiesel juga membuka peluang bagi pengembangan green fuel, termasuk green diesel, green gasoline, dan green avtur yang tengah dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan energi masa depan.

Selain itu, pemanfaatan bioenergi generasi kedua dari biomassa dan generasi ketiga berbasis POME menjadi salah satu potensi lanjutan dalam pengembangan energi bersih nasional berbasis sawit.

Dengan dinamika pengembangan tersebut, Biodiesel Sawit diposisikan sebagai salah satu instrumen energi rendah emisi yang berperan dalam penurunan emisi 400 kali lipat sejak 2010.***

Bagikan :

Artikel Lainnya