Semester I 2025, Program Biodiesel B40 Hemat Devisa Negara Rp60 Triliun

Semester pertama 2025, program Biodiesel B40 mencatat penghematan devisa sekitar Rp60,37 triliun. Data Kementerian ESDM menunjukkan realisasi mencapai 6,8 juta kiloliter dari target tahunan 13,5 juta kiloliter.

BERITA

Arsad Ddin

23 September 2025
Bagikan :

(Foto: aprobi.or.id)

Jakarta, HAISAWIT - Program mandatori Biodiesel B40 pada semester pertama 2025 mencatat capaian besar. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut penghematan devisa negara mencapai sekitar Rp60,37 triliun atau setara US$3,68 miliar.

Capaian tersebut muncul dari realisasi pencampuran biodiesel sebesar 40% dalam minyak solar. Pemerintah menilai kinerja ini menjadi bagian penting dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional serta mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.

Dikutip dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Selasa (23/9/2025), target pemanfaatan B40 tahun 2025 sebesar 13,5 juta kiloliter (KL). Realisasi hingga semester I mencapai 6,8 juta KL atau sekitar 50,4 % dari target.

Data Kementerian ESDM menyebut pengelolaan B40 diatur melalui Keputusan Menteri ESDM No 341.K/EK.01/MEM.E/2024. Landasan hukum tersebut menjadi payung tata kelola program, termasuk penyaluran, distribusi, hingga alokasi untuk sektor publik dan non-publik.

Pemerintah menetapkan alokasi biodiesel B40 sepanjang tahun ini mencapai 15,6 juta KL. Dari jumlah tersebut, 7,55 juta KL masuk dalam layanan Public Service Obligation (PSO), sementara 8,07 juta KL disalurkan untuk sektor non-PSO.

Penyaluran biodiesel B40 dijalankan oleh 24 Badan Usaha BBN. Selain itu, terdapat 2 Badan Usaha BBM untuk distribusi PSO dan non-PSO, serta 26 Badan Usaha BBM khusus sektor non-PSO. Sistem ini memastikan ketersediaan pasokan di berbagai wilayah.

Selain capaian angka, dukungan infrastruktur juga tengah diperkuat. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengungkapkan rencana pembangunan pabrik biodiesel baru di Merauke, Papua Selatan, dengan target beroperasi pada tahun 2027.

Pembangunan fasilitas tersebut bertujuan memastikan pasokan biodiesel yang berkelanjutan. Lokasi di Papua Selatan dipilih untuk memperluas sebaran produksi dan distribusi agar manfaat ekonomi bisa dirasakan secara lebih merata di berbagai daerah.

Keberadaan pabrik baru di Merauke juga diyakini akan menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, infrastruktur energi berbasis biodiesel di kawasan timur Indonesia dapat memperkuat jalur distribusi dan memperbesar kontribusi daerah terhadap program nasional.

Program B40 pada semester I 2025 mencatat dampak signifikan. Dari realisasi 6,8 juta KL biodiesel hingga rencana pembangunan fasilitas pendukung, kebijakan ini menunjukkan pergerakan konkret sesuai paparan capaian kinerja Kementerian ESDM.***

Bagikan :

Artikel Lainnya