
Tim peneliti Institut Teknologi Kalimantan mengembangkan biokokas dari cangkang sawit (Foto: Dok. ITK)
Balikpapan, HAISAWIT - Limbah cangkang kelapa sawit kini memiliki potensi baru sebagai bahan pengganti kokas batu bara di industri baja. Tim peneliti dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) berhasil mengolah cangkang sawit menjadi biokokas berkualitas tinggi.
Inovasi ini dilakukan untuk mendukung kemandirian industri baja Indonesia sekaligus mengurangi jejak karbon. Biokokas dari sawit menjadi alternatif lokal yang lebih ramah lingkungan dibandingkan kokas impor dari batu bara.
Dikutip dari laman ITK, Senin (1/9/2025), proses karbonisasi cangkang sawit dilakukan pada suhu 600°C, menghasilkan biochar dengan kandungan karbon 86,66% dan tingkat konversi bijih hematit menjadi besi murni mencapai 84,2%. Kandungan sulfur nol membuatnya lebih bersih.
Metode pengolahan ini memanfaatkan limbah yang sebelumnya dibakar atau dibuang. Dengan pendekatan ini, cangkang sawit bertransformasi menjadi sumber energi padat yang dapat digunakan di industri baja modern.
Penelitian ini merupakan kolaborasi beberapa peneliti ITK yang fokus pada teknologi karbonisasi biomassa. Inovasi mereka membuktikan potensi riset lokal dalam mendukung keberlanjutan industri strategis.
Biokokas hasil riset memiliki kalor setara batu bara dan sangat reaktif dalam mereduksi bijih besi. Keunggulan ini membuat biokokas layak menjadi alternatif kokas impor tanpa mengurangi efisiensi produksi baja.
Selain itu, karbon yang dilepas saat biokokas digunakan seimbang dengan karbon yang terserap oleh tanaman sawit, sehingga bersifat karbon netral. Hal ini sejalan dengan tren global penggunaan energi hijau.
Dukungan dana riset dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) memungkinkan pengembangan skala pilot hingga potensi industri. Skema ini membuka peluang implementasi biokokas di pabrik baja nasional.
Hasil uji laboratorium menunjukkan konsistensi kualitas biokokas pada beberapa batch produksi. Cangkang sawit yang diolah menjadi biokokas menunjukkan sifat fisik dan kimia yang stabil untuk penggunaan industri.
Beberapa pabrik baja di Indonesia kini mulai menguji biokokas sawit sebagai pengganti sebagian kokas impor. Hasil awal mencatat kinerja setara dengan kokas batu bara konvensional.
Penerapan biokokas di industri baja diyakini akan menurunkan ketergantungan impor kokas sekaligus membantu pengelolaan limbah sawit secara lebih efektif. Kajian lebih lanjut akan terus dilakukan untuk meningkatkan skala produksi.***