Riset Universiti Putra Malaysia Kembangkan Teknologi Bioenergi dari Limbah Sawit untuk Bahan Bakar Penerbangan

Konferensi internasional MAcIFIC 2025 yang berlangsung di Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang, menghadirkan sejumlah riset inovatif dari berbagai negara. Salah satunya disampaikan Universiti Putra Malaysia (UPM) yang mengembangkan teknologi bioenergi berbasis limbah sawit untuk diolah menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

BERITA HAI INOVASI SAWIT

Arsad Ddin

1 Oktober 2025
Bagikan :

Acara The 5th Maritime Continent Fulcrum (MAcIFIC) 2025 menghadirkan para pakar dari berbagai negara di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, pada Rabu (24/9/2025). (Foto: Dok. UMRAH)

Tanjungpinang, HAISAWIT – Forum internasional MAcIFIC 2025 di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, menampilkan riset mutakhir terkait bioenergi. Salah satu temuan yang menarik datang dari Universiti Putra Malaysia (UPM) mengenai pemanfaatan limbah sawit menjadi bahan bakar penerbangan.

Dalam sesi pleno, Prof. ChM. Ts. Dr. Taufiq Yap Yun Hin dari UPM memaparkan inovasi konversi minyak jelantah dan biomassa kelapa sawit. Ia menyebut potensi besar dari bahan buangan yang sering diabaikan itu bisa menjadi sumber energi bernilai tinggi.

“Fokus kita adalah mengubah limbah menjadi kekayaan (waste to wealth),” ujar Prof. Taufiq, dikutip dari laman UMRAH, Rabu (1/10/2025).

Ia menjelaskan bahwa minyak jelantah memiliki harga yang rendah tetapi dapat diolah menjadi energi berkualitas. Dengan dukungan teknologi katalis, minyak bekas pakai itu dapat diproses menjadi bahan bakar berstandar tinggi.

“Minyak jelantah, yang harganya sangat murah, dapat diproses menjadi bahan bakar berkualitas tinggi melalui teknologi katalis yang tepat,” tambah Prof. Taufiq.

Penelitian tim UPM yang dipresentasikan dalam forum ini menghasilkan katalis heterogen berbasis padatan. Teknologi tersebut digunakan untuk mengubah minyak jelantah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF), atau bahan bakar jet berkelanjutan.

Inovasi ini disebut relevan dengan target industri penerbangan global yang sedang mengarah pada pencapaian Net Zero Carbon tahun 2050. Bahan bakar berkelanjutan dari limbah sawit dianggap sebagai salah satu alternatif strategis untuk mendukung capaian tersebut.

Selain Prof. Taufiq, forum MAcIFIC 2025 juga menghadirkan pembicara dari berbagai negara. Mereka membahas isu-isu kelautan dan energi terbarukan, termasuk peluang pemanfaatan sumber daya berbasis biomassa yang tersedia melimpah di kawasan Asia Tenggara.

Pembahasan mengenai bioenergi dari sawit disampaikan bersamaan dengan tema besar konferensi tentang masa depan kelautan. Kegiatan ini menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dalam menghadapi tantangan global, termasuk penyediaan energi bersih.

Rektor UMRAH, Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, dalam pembukaan acara, menekankan pentingnya tindakan nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. “Kita harus melindungi hari esok kita sejak kemarin, dan kita harus memperbaiki kesalahan kita hari ini,” ucapnya.

Agenda MAcIFIC 2025 berlangsung dengan menghadirkan delegasi dari sejumlah negara, baik secara luring maupun daring. Sesi pleno yang menampilkan riset bioenergi sawit menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian pembahasan.***

Bagikan :

Artikel Lainnya