India, Tiongkok, dan Malaysia Jadi Pasar Ekspor Sawit Terbesar Riau 2025

Badan Pusat Statistik Provinsi Riau mencatat India, Tiongkok, dan Malaysia menjadi pasar utama ekspor sawit sepanjang Januari–Agustus 2025. Ketiga negara menyerap sebagian besar produk CPO dan minyak goreng sawit dari Riau.

BERITA

Arsad Ddin

2 Oktober 2025
Bagikan :


Riau, HAISAWIT - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau melaporkan kinerja ekspor nonmigas pada Januari–Agustus 2025 mengalami peningkatan signifikan. Produk berbasis kelapa sawit tercatat mendominasi tujuan utama ekspor ke sejumlah negara.

BPS menyebut, tiga negara yang menjadi pasar ekspor terbesar Riau adalah Tiongkok, India, dan Malaysia. Ketiganya memberikan kontribusi 31,96 persen terhadap total ekspor nonmigas daerah sepanjang delapan bulan pertama tahun ini.

Dikutip dari laman BPS Riau, Kamis (2/10/2025), nilai ekspor ke Tiongkok tercatat mencapai US$2,01 miliar atau 14,95 persen. Sementara ke India senilai US$1,31 miliar dan Malaysia sebesar US$0,98 miliar.

Ekspor ke Tiongkok didominasi oleh bubuk kertas (pulp), minyak goreng kelapa sawit, serta kimia dasar organik berbasis pertanian. Sedangkan India lebih banyak menerima pasokan minyak mentah kelapa sawit (CPO) dan minyak goreng sawit.

Pada periode yang sama, nilai ekspor Riau untuk kelompok lemak dan minyak hewan/nabati mencapai US$7,91 miliar. Angka ini naik 50,35 persen dibanding Januari–Agustus 2024, sehingga menjadi penyumbang terbesar surplus perdagangan nonmigas.

BPS mencatat, total nilai ekspor Riau sepanjang Januari–Agustus 2025 mencapai US$14,22 miliar. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan nilai impor sebesar US$1,10 miliar, sehingga menghasilkan surplus perdagangan senilai US$13,11 miliar.

Surplus perdagangan nonmigas Riau terutama ditopang lima komoditas utama, yakni lemak dan minyak nabati, produk kimia, kertas dan karton, bubur kayu (pulp), serta bahan kimia organik. Komoditas sawit memberi kontribusi terbesar di dalam kelompok tersebut.

Secara rinci, surplus perdagangan Riau dengan Tiongkok mencapai US$1,84 miliar, India sebesar US$1,28 miliar, dan Malaysia US$0,90 miliar. Surplus tersebut sebagian besar bersumber dari ekspor produk berbasis sawit.

Sementara itu, defisit perdagangan nonmigas tercatat dengan Kanada senilai US$167,82 juta. Dari negara ini, impor terbesar berasal dari pupuk buatan tunggal hara makro primer, bubur kertas, serta mesin pabrik kertas.

Rilis BPS juga menyebutkan bahwa produk sawit tetap menjadi komoditas andalan ekspor Riau pada 2025. Peran sawit dalam mendorong surplus perdagangan nonmigas menjadikan sektor ini tetap strategis bagi perekonomian daerah.***

Bagikan :

Artikel Lainnya