Rembuk Sawit di Malinau Bahas Pentingnya Edukasi Petani dan Kualitas Bibit untuk Produktivitas

Melalui kegiatan rembuk sawit di kebun petani lokal, Pemkab Malinau menyampaikan dukungan terhadap pertanian sehat dan program RASDA, sekaligus menyerap aspirasi petani secara langsung di lapangan.

BERITA

Arsad Ddin

4 Agustus 2025
Bagikan :

Sekretaris Daerah Malinau Dr. Ernes Silvanus bersama jajaran perangkat daerah mengikuti rembuk sawit bersama PPKS Kalimantan Utara di Desa Paking, Malinau, Sabtu (2/8/2025). (Foto: Dok.
Diskominfo Malinau)

Malinau, HAISAWIT – Kegiatan rembuk petani sawit di Kabupaten Malinau berlangsung pada Sabtu (2/8/2025), dipusatkan di kebun sawit milik Daniel Sakai. Acara ini menggandeng Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Kalimantan Utara.

Sekretaris Daerah (Sekda) Malinau, Dr. Ernes Silvanus, S.Pi., M.M., M.H., hadir langsung dalam kegiatan tersebut bersama sejumlah kepala dinas dan perangkat daerah terkait.

Kegiatan tersebut menjadi ajang diskusi antara petani dan pemerintah daerah dalam membahas upaya peningkatan hasil sawit berbasis edukasi dan penggunaan bibit unggul yang sesuai dengan karakteristik wilayah.

Dalam sambutannya, Sekda menyampaikan pandangan soal pentingnya edukasi langsung kepada petani sawit melalui kegiatan semacam ini.

“Saya apresiasi semangat Bapak Ibu pekebun, terlebih kegiatan seperti ini menjadi sarana edukasi langsung. Saya hadir bersama Kepala Bappeda dan Litbang, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, serta perwakilan Dinas Pertanian dan Perkebunan agar dapat langsung mendengar dan menindaklanjuti aspirasi petani,” ujar Ernes, dikutip dari FP Diskominfo Malinau, Senin (4/8/2025).

Ernes juga menyampaikan pengalaman pribadi dalam hal pemilihan bibit yang tidak sesuai dengan lokasi tanam, yang berdampak pada hasil jangka panjang.

“Saya pernah mengalami sendiri, menanam durian sejak tahun 2009 sampai sekarang belum berbuah. Ini menjadi pelajaran penting bahwa bibit unggul dan sesuai sangat menentukan,” katanya.

Selain membahas bibit, Sekda juga menyinggung kelangsungan program pemerintah daerah di sektor pertanian dan perkebunan, khususnya program RASDA.

“Program RASDA tetap kita anggarkan, bahkan harga beli gabah kita di atas rata-rata nasional. Jadi kalau ada keluhan, itu lebih pada oknum, bukan pada program,” ucapnya di hadapan peserta rembuk.

Ia menyoroti pola pikir petani yang masih cenderung pasif dan menunggu hasil dari petani lain sebelum bertindak, sehingga perlu didorong perubahan sikap.

“Kita ini sering seperti murid-murid Thomas, harus melihat dulu baru percaya. Kalau belum lihat hasilnya, belum percaya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sekda juga mengingatkan bahwa berpindah-pindah komoditas karena ikut tren justru bisa menghambat produktivitas jangka panjang.

“Dulu ramai-ramai tanam lada, vanili, karet, kopi, lalu berganti karena tidak siap menghadapi tantangan. Ini yang harus kita hindari,” jelasnya.

Di akhir pertemuan, Sekda menyampaikan apresiasi terhadap Daniel Sakai yang telah membuka lahannya untuk kegiatan rembuk sawit dan pembelajaran lapangan.

“Kalau bisa belajar langsung di sini, tidak perlu jauh-jauh ke Medan. Kita dukung kalau memang ini bisa jadi tempat studi lapangan petani lokal,” tutur Sekda.

Kegiatan rembuk ini menjadi salah satu bentuk pendekatan langsung pemerintah daerah kepada petani sawit dengan melibatkan berbagai pihak teknis untuk mendengar masukan langsung di lapangan.

Acara yang berlangsung di kebun sawit lokal ini dihadiri oleh petani dari sejumlah desa di Malinau dan mendapat respons positif dari peserta yang hadir.

Pihak PPKS Kalimantan Utara yang turut terlibat juga berperan dalam memberikan masukan teknis terkait pemilihan bibit dan pengelolaan kebun sawit berkelanjutan.***

Bagikan :

Artikel Lainnya