
Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit. (Foto: BPDP)
Jakarta, HAI SAWIT – Permintaan global terhadap produk emulsifier menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini membuka peluang besar bagi pengembangan pasar bioemulsifier sawit yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Pertumbuhan ini diperkirakan menjadi pendorong utama bagi ekspansi industri kimia hijau berbasis sawit. Bioemulsifier sawit dinilai mampu menggantikan emulsifier sintetis yang banyak digunakan dalam berbagai sektor industri.
Dilansir laman BPDP, Minggu (9/11/2025), nilai pasar emulsifier dunia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai antara US$8–11 miliar dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 6–8 persen. Proyeksi menunjukkan bahwa pada 2030, nilainya bisa menembus US$15–20 miliar.
Sejalan dengan peningkatan tersebut, peluang bagi pengembangan bioemulsifier berbasis sawit terbuka semakin luas. Produk ini dinilai mampu bersaing karena bersifat biodegradable, renewable, dan sesuai dengan tren keberlanjutan global.
Lembaga riset PASPI dalam jurnal berjudul Prospek Emulsifier Sawit menyebutkan, bioemulsifier sawit memiliki potensi pertumbuhan lebih cepat dibanding emulsifier sintetis. Pasar dunia dinilai mulai beralih ke produk alami dengan jejak karbon rendah.
Pendorong utama kenaikan permintaan emulsifier global antara lain adalah pertumbuhan pusat ekonomi baru di kawasan Asia, seperti ASEAN, China, dan India (ACI). Ketiga wilayah tersebut diproyeksikan menjadi pusat ekonomi dunia dengan aktivitas industri yang dinamis.
Kawasan ACI juga diprediksi akan menyumbang lebih dari 40 persen populasi global pada 2050. Pertumbuhan konsumsi di sektor makanan, kosmetik, dan farmasi di kawasan ini meningkatkan kebutuhan bioemulsifier sawit sebagai bahan pengemulsi utama.
Selain itu, regulasi pro-lingkungan di negara maju turut mempercepat peralihan dari emulsifier sintetis menuju bahan alami. Uni Eropa, misalnya, mulai membatasi penggunaan mikroplastik dan mendorong reformulasi produk agar lebih ramah lingkungan.
Perubahan gaya hidup masyarakat urban di seluruh dunia juga memperluas pasar bioemulsifier sawit. Konsumen kini lebih selektif terhadap produk yang plant-based, bebas plastik, serta memiliki nilai keberlanjutan tinggi.
Fenomena tersebut memperkuat posisi bioemulsifier sawit dalam rantai pasok global. Industri farmasi, kosmetik, dan pangan menjadi sektor dengan permintaan tertinggi terhadap bahan berbasis sawit ini.
Prospek pasar bioemulsifier sawit pun dinilai akan semakin cerah dalam lima tahun ke depan. Dengan dukungan riset dan inovasi, Indonesia berpeluang memperkuat posisinya sebagai pemasok utama bahan baku bioemulsifier untuk industri kimia hijau dunia.***