Program Biodiesel Sawit Dongkrak Harga TBS, Ekonomi Daerah Ikut Bangkit

Program biodiesel berbasis sawit terbukti menjaga harga TBS tetap stabil. Kebijakan ini memberikan efek ganda terhadap peningkatan pendapatan petani, memperkuat industri hilir, dan menggerakkan kembali ekonomi daerah sentra sawit.

BERITA

Arsad Ddin

12 November 2025
Bagikan :

Ilustrasi Petani Sawit (Hai Sawit/Arsad Ddin)

Jakarta, HAI SAWIT – Program biodiesel berbasis minyak sawit terbukti menjadi penopang utama bagi stabilitas harga tandan buah segar (TBS) di berbagai daerah. Dampaknya terasa langsung terhadap peningkatan aktivitas ekonomi lokal.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menyebut bahwa kebijakan biodiesel telah menjadi penyeimbang di tengah fluktuasi pasar global. Program ini dinilai mampu menjaga daya beli petani dan menggerakkan sektor hilir sawit.

“Sebelum ada program biodiesel, harga sawit bahkan di bawah biaya produksi. Banyak petani membiarkan buahnya busuk di pohon. Sekarang, berkat program ini, harga sawit bisa bertahan dan ekonomi daerah ikut bangkit,” ujar Eddy, dikutip dari laman Gapki, Rabu (12/11/2025).

Menurut Eddy, keberhasilan program biodiesel tak lepas dari kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan petani. Sinergi ini menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga serta pasokan bahan baku di tingkat kebun.

Ia menambahkan, program biodiesel berbasis sawit juga memberikan multiplier effect bagi masyarakat di sekitar perkebunan. Ketika harga TBS stabil, daya beli petani meningkat, dan sektor pendukung seperti transportasi dan perdagangan lokal ikut bergeliat.

Eddy mengingatkan, agar efek positif program biodiesel bisa berkelanjutan, sektor hulu sawit perlu dibenahi lebih serius. Produktivitas kebun rakyat masih rendah dan perlu dorongan untuk mencapai efisiensi yang lebih tinggi.

“Jika sektor hulu tidak dibenahi, hilirisasi tidak akan berjalan optimal. Produksi sawit stagnan dalam lima tahun terakhir. Karena itu, GAPKI terus mendorong peningkatan produktivitas petani dan efisiensi di tingkat kebun,” katanya.

Selain aspek ekonomi, GAPKI juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara keuntungan bisnis dan tanggung jawab sosial. Industri sawit, kata Eddy, harus berperan dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Kami ingin industri sawit tidak hanya kuat secara ekonomi, tapi juga memberikan manfaat sosial dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Program biodiesel kini menjadi bagian dari strategi energi nasional berbasis bahan bakar nabati. Sekitar 40 persen pasokan biodiesel dalam negeri bersumber dari minyak sawit, menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar dunia.

Dengan kontribusi besar terhadap harga TBS dan ekonomi daerah, kebijakan biodiesel sawit semakin menunjukkan perannya sebagai pilar penting pembangunan berkelanjutan di sektor perkebunan nasional.***

Bagikan :

Artikel Lainnya