Permintaan Sawit di Jepang dan Selandia Baru Meningkat, India dan China Masih Dominan

India dan China masih memimpin permintaan ekspor sawit Indonesia, sementara Jepang dan Selandia Baru menunjukkan tren kenaikan. Volume ekspor yang kuat ini mendukung pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

BERITA

Arsad Ddin

17 November 2025
Bagikan :

Ilustrasi Perkebunan Sawit (Foto Ilustrasi: Arsad Ddin)

Bali, HAI SAWIT - Ekspor sawit Indonesia terus mencatat tren positif pada 2025, dengan India dan China tetap menjadi pasar dominan. Jepang dan Selandia Baru juga mulai menunjukkan peningkatan permintaan, mendukung devisa nasional.

Tren ekspor sawit ini tercermin dari volume pengiriman yang stabil, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap neraca perdagangan Indonesia. Kinerja sektor ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Dilansir laman Gapki, Senin (17/11/2025), India dan China masih menjadi tujuan utama ekspor sawit, sementara Jepang dan Selandia Baru mengalami lonjakan permintaan. Hal ini menunjukkan diversifikasi pasar yang terus berlangsung.

Peningkatan permintaan dari negara-negara Asia Pasifik membantu menjaga stabilitas harga sawit di pasar domestik. Harga TBS (tandan buah segar) saat ini tercatat sekitar Rp 3.000 per kilogram, memberikan manfaat bagi petani kecil.

Ekspor sawit yang kuat juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2025 yang mencapai 5,04 persen. Sektor pertanian, termasuk sawit, menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan tersebut.

Selain nilai ekspor, investasi sektor sawit tetap tinggi. Hingga kuartal III-2025, total investasi mencapai Rp 1.434,3 triliun, memperkuat kapasitas produksi sekaligus membuka peluang kerja di sejumlah daerah.

Industri sawit Indonesia terus mendorong penerapan sertifikasi ISPO sebagai standar keberlanjutan. Langkah ini sejalan dengan tuntutan pasar global sekaligus menjaga citra ekspor sawit di pasar internasional.

Permintaan ekspor yang meningkat di Jepang dan Selandia Baru turut menstimulasi aktivitas industri hilir. Produk turunan sawit mulai dari minyak goreng hingga bioenergi kini memiliki pangsa pasar yang semakin luas.

Selain pasar utama, inovasi teknologi dan metode produksi modern juga diadopsi perusahaan sawit untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk. Hal ini mendukung kemampuan industri memenuhi permintaan global.

IPOC 2025 di Bali menampilkan antusiasme pelaku industri dengan 113 booth pameran dan 1.545 peserta dari 28 negara. Event ini menjadi platform penting untuk membuka peluang ekspor sawit baru dan memperluas jaringan.

Ekspor sawit Indonesia tetap menjadi penggerak devisa negara, dengan India dan China mendominasi, sementara Jepang dan Selandia Baru terus meningkatkan permintaan.***

Bagikan :

Artikel Lainnya