
Management Representative PT Agrina Sawit Perdana (ASP), Armadi Wijaya Kusuma. (Foto: Tangkapan Layar HaiSawit TV)
Jakarta, HAISAWIT – Mengelola ribuan tenaga kerja di hamparan kebun sawit yang luas bukan sekadar urusan teknis, melainkan seni memimpin berbagai generasi agar tetap selaras dalam mencapai target produksi perusahaan.
Management Representative PT Agrina Sawit Perdana (ASP), Armadi Wijaya Kusuma, menyadari betul bahwa dinamika di lapangan kini sangat dipengaruhi oleh kehadiran Generasi Z yang membawa perspektif baru dalam dunia kerja.
Baginya, kunci utama untuk merangkul energi besar dari generasi muda tersebut adalah melalui keteladanan nyata dari para pemimpin lapangan yang mampu menjadi jembatan komunikasi yang efektif dan solutif.
Armadi membedakan antara sosok yang sekadar memegang jabatan formal dengan pemimpin yang memiliki jiwa leader sesungguhnya, di mana kemampuan menggerakkan orang lain menjadi pembeda yang sangat nyata di operasional.
Seorang pemimpin di perkebunan sawit harus mampu menunjukkan integritas melalui tindakan konkret agar setiap instruksi yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh seluruh tim tanpa adanya batasan strata yang kaku.
"Leader itu pasti bisa menjadi pemimpin karena kemampuan dasar dalam melakukan suatu tindakan. Suatu tindakan itu akan terlihat jelas dan dirasakan oleh semua orang," ujar Armadi dalam wawancara bersama HaiSawit.
Menurut pandangannya, para pemimpin harus memiliki ketangkasan dalam beradaptasi dengan perubahan zaman agar tidak terjebak dalam pola pikir lama yang sering kali sulit diterima oleh anak-anak muda zaman sekarang.
Kewajiban moral bagi jajaran manajemen senior adalah memberikan tantangan yang memotivasi Gen Z agar mereka merasa terlibat langsung dalam memajukan industri sawit melalui inovasi dan pemikiran analitis yang mereka miliki.
Pembinaan ini dilakukan dengan prinsip keterbukaan, di mana setiap pekerja muda didorong untuk berpartisipasi aktif dalam memecahkan masalah di lapangan melalui dialog dua arah yang jujur antara atasan dan bawahan.
Penerapan sistem penghargaan dan sanksi yang adil juga menjadi perhatian utama agar para tenaga kerja muda ini memahami konsekuensi dari setiap performa kerja yang mereka tunjukkan selama di area perkebunan.
"Ada kewajiban moril untuk mendorong Gen Z agar bisa berpartisipasi dengan cara memberikan tantangan. Mereka harus di-challenge dan kita menggunakan prinsip terbuka," lanjut Armadi.
Armadi menekankan bahwa sinergi antara pengetahuan teknis dan sikap kerja yang baik harus terus dipupuk agar operasional perusahaan yang kini mengelola lahan seluas 50.000 hektar tetap berjalan secara stabil.
Keteladanan kepemimpinan yang ditunjukkan mulai dari tingkat mandor hingga manajemen puncak akan menciptakan daya dorong internal yang kuat bagi seluruh karyawan untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi masyarakat dan negara.
Semangat kolektif ini dibalut dalam sebuah tekad bersama yang diyakini mampu membawa PT ASP melewati berbagai tantangan industri, baik dalam aspek operasional perkebunan maupun perluasan unit bisnis di masa depan.
Melalui pendekatan kepemimpinan yang inspiratif dan adaptif, industri sawit nasional diharapkan tetap mampu melahirkan generasi penerus yang tangguh dan memiliki integritas tinggi dalam menjaga keberlanjutan sektor perkebunan di Indonesia.***