Industri sawit melibatkan sekitar 16,5 juta kepala keluarga dan pada 2022 berkontribusi devisa ekspor sebesar USD 39 miliar, yang turut mendorong surplus neraca perdagangan nasional
Sahnia Mellynia
27 Januari 2026Industri sawit melibatkan sekitar 16,5 juta kepala keluarga dan pada 2022 berkontribusi devisa ekspor sebesar USD 39 miliar, yang turut mendorong surplus neraca perdagangan nasional
Sahnia Mellynia
27 Januari 2026
Yogyakarta, HAISAWIT – Industri kelapa sawit tetap dipandang sebagai sektor strategis perekonomian nasional, namun tantangan ke depan tidak lagi hanya berkaitan dengan pertumbuhan, melainkan keberlanjutan usaha yang seimbang antara manfaat ekonomi, perlindungan lingkungan, dan dampak sosial.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menyampaikan, industri sawit melibatkan sekitar 16,5 juta kepala keluarga dan pada 2022 berkontribusi devisa ekspor sebesar USD 39 miliar, yang turut mendorong surplus neraca perdagangan nasional.
Eddy menekankan bahwa keberlanjutan menjadi prasyarat utama industri sawit ke depan agar mampu berperan dalam ketahanan pangan dan energi, pembangunan wilayah, serta pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
Kepala Pusat Studi Sawit Institut Pertanian Bogor (IPB) Budi Mulyanto menilai aspek lahan sebagai fondasi keberlanjutan sawit. Menurutnya, kepastian hukum lahan yang berkeadilan diperlukan untuk mendukung praktik sawit berkelanjutan dan mencegah tekanan ekologis.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin menyampaikan bahwa keberlanjutan sawit juga bergantung pada konsistensi kebijakan dari hulu hingga hilir, termasuk penguatan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah.
Dari sisi lingkungan dan energi, sejumlah akademisi menilai sawit memiliki kontribusi besar sebagai sumber minyak nabati dan bahan baku energi baru terbarukan, serta berperan penting dalam posisi ekonomi Indonesia di tingkat global.