GAPKI: Permintaan Global Naik, Pasokan Sawit Indonesia Masih Terbatas

Permintaan minyak sawit dunia mengalami kenaikan, sementara pasokan dari Indonesia masih berada pada level terbatas. GAPKI mencatat kondisi produksi yang relatif stagnan dan naiknya konsumsi dalam negeri memengaruhi keseimbangan pasokan serta ekspor CPO nasional.

ARTIKEL

Arsad Ddin

31 Desember 2025
Bagikan :

Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit - HaiSawit

Jakarta, HAI SAWIT - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai kenaikan permintaan minyak nabati global belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan pasokan sawit nasional, sehingga memberi tekanan tersendiri bagi kinerja industri pada 2026.

Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia menghadapi tantangan struktural ketika produksi cenderung stagnan, sementara kebutuhan pangan dan energi meningkat baik di pasar domestik maupun internasional.

Dilansir dari laman GAPKI, Rabu (31/12/2025), Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menyampaikan produksi minyak sawit Indonesia dan Malaysia relatif tidak bertambah signifikan, sedangkan permintaan global meningkat, sehingga pasokan menjadi terbatas.

Data GAPKI mencatat volume ekspor CPO Indonesia hingga Oktober 2025 mencapai 27,69 juta ton, naik dari 24,84 juta ton pada periode sama tahun sebelumnya tersebut.

Peningkatan pengapalan tersebut ditopang harga minyak sawit yang lebih kompetitif dibandingkan minyak bunga matahari dan kedelai, sejak April 2025 berada pada level lebih rendah global.

GAPKI memproyeksikan kondisi produksi yang stagnan berpotensi berlanjut hingga 2026, dengan pasokan terbatas dan permintaan meningkat mendorong penguatan harga minyak sawit nasional dan global kembali.

Konsumsi minyak sawit dalam negeri pada Januari hingga Oktober 2025 tercatat 20,68 juta ton, meningkat dari 19,64 juta ton pada periode sama tahun sebelumnya nasional.

Kenaikan konsumsi domestik terutama berasal dari sektor energi melalui program biodiesel, seiring rencana penerapan mandatori B50 yang memperbesar penyerapan CPO di dalam negeri pada 2026.

Dengan produksi yang terbatas dan konsumsi domestik meningkat, GAPKI menilai pasokan untuk pasar ekspor berpotensi menyempit, sehingga dinamika perdagangan sawit Indonesia pada 2026 menghadapi tekanan tambahan.***

Bagikan :

Artikel Lainnya