
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menghadiri Kuliah Umum Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (19/11/2025). (Foto: Kementerian Ekon)
Yogyakarta, HAI SAWIT – Pengembangan hilirisasi minyak sawit kembali menjadi perhatian dalam upaya menuju perluasan pemanfaatan B50 pada 2026. Pemerintah menilai langkah ini penting untuk memperkuat sektor energi berbasis sawit.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan penguatan sektor hilir diperlukan agar pengembangan biodiesel sawit bisa berjalan lebih optimal. Ia mengatakan kebijakan B50 harus ditopang kapasitas produksi yang memadai.
Dalam Kuliah Umum Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) yang mengangkat tema “Hilirisasi Dorong Percepatan Ekonomi dan Penciptaan Lapangan Kerja untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045”, di Yogyakarta, Rabu (19/11), Menko Airlangga menekankan perlunya percepatan hilirisasi sawit untuk mendukung pemanfaatan energi terbarukan.
“Hilirisasi itu sudah masuk dalam RPJMN pada beberapa program, yaitu antara lain ekonomi digital, infrastruktur, industri kreatif, dan saintek. Hilirisasi itu menjadi andalan karena potensi kita untuk hilirisasi sangat luas. Misalnya dari hilirisasi minyak sawit bahwa kita punya potensi biodiesel, karena Pak Presiden ingin tahun depan didorong ke B50. Tapi, itu ada tantangan untuk meningkatkan produksi, dan kita akan dorong ke special sustainable agriculture,” kata Airlangga, Menko Airlangga, dalam acara tersebut.
Airlangga menilai hilirisasi sawit memiliki peran penting dalam memperluas nilai tambah nasional dan mendukung target Indonesia Emas 2045. Ia menyebut sektor perkebunan termasuk sawit menjadi bagian dari peta besar hilirisasi ekonomi.
Menurutnya, hilirisasi sawit tidak sekadar meningkatkan kapasitas produksi biodiesel, tetapi juga mendorong pertumbuhan tenaga kerja baru. Pemerintah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk menunjang percepatan tersebut.
Airlangga menjelaskan potensi hilirisasi komoditas berbasis alam, termasuk sawit, mencapai lebih dari USD51 miliar. Sektor ini dipandang strategis dalam mendukung transformasi ekonomi berbasis energi bersih.
Pemerintah juga menyoroti kebutuhan penguatan struktur industri agar roadmap hilirisasi hingga 2040 bisa berjalan efektif. Sawit menjadi bagian dari komoditas prioritas pada program tersebut.
Airlangga menjabarkan bahwa hilirisasi sawit terhubung dengan rencana pengembangan energi terbarukan. Ia menilai teknologi dan inovasi di sektor ini akan mendukung kemandirian energi nasional.
Sejumlah langkah lanjutan dipersiapkan untuk memperluas pemanfaatan biodiesel sawit. Airlangga menilai bauran energi berbasis sawit dapat mendorong penguatan daya saing industri nasional.
Dalam acara itu, Airlangga menekankan kembali bahwa upaya menuju B50 pada 2026 memerlukan dukungan sektor hilir sawit yang kuat dan berkelanjutan.***