Limbah Sawit Lampung Jadi Incaran Pertamina dan Toyota untuk Bahan Baku Bioetanol

Pemerintah Provinsi Lampung mematangkan rencana investasi bioetanol generasi kedua dengan memanfaatkan biomassa kelapa sawit. Proyek kolaborasi bersama Pertamina dan Toyota ini bertujuan mengoptimalkan potensi komoditas pertanian lokal sebagai bahan baku bahan bakar terbarukan.

BERITA

Arsad Ddin

2 Februari 2026
Bagikan :

Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, Mulyadi Irsan. (Foto: Biroadpim Prov Lampung)


Bandar Lampung, HAISAWIT – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mematangkan rencana investasi strategis pengembangan Multifeedstock Technology Bioethanol Processing bersama Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan Toyota guna mendukung kemandirian energi nasional, Kamis (29/01/2026).

Langkah besar ini berfokus pada pemanfaatan berbagai bahan baku lokal, termasuk limbah biomassa kelapa sawit, untuk mempercepat transisi energi hijau melalui kebijakan mandatori pencampuran etanol pada bahan bakar bensin.

Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi (Setdaprov) Lampung, Mulyadi Irsan, menjelaskan keunggulan geografis wilayah ini sebagai basis industri energi terbarukan karena ketersediaan bahan baku yang melimpah dan strategis.

“Lampung adalah gerbang Pulau Sumatera dan berdekatan langsung dengan pasar utama di Pulau Jawa. Potensi komoditas pertanian kita sangat besar untuk mendukung kebutuhan feedstock bioetanol,” ujar Mulyadi, dikutip dari laman Biroadpim Prov Lampung, Senin (02/02/2026). Penerapan teknologi multifeeds

tock menjadi solusi utama agar produksi bahan bakar nabati ini tidak terpaku pada satu jenis komoditas saja, melainkan memanfaatkan fleksibilitas sumber daya alam yang tersedia secara berkelanjutan.

Pertamina New & Renewable Energy kini menyiapkan pembangunan demo plant bioetanol generasi kedua di kawasan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, yang secara spesifik akan mengolah limbah biomassa kelapa sawit menjadi bahan bakar alternatif.

Berikut adalah poin-poin utama dalam rencana pengembangan investasi bioetanol di Provinsi Lampung:

  • Lokasi proyek strategis berada di Tegineneng untuk menguji skalabilitas produksi.
  • Limbah biomassa sawit dan sorgum menjadi fokus utama pengembangan tahap awal.
  • Teknologi kendaraan flex-fuel dari Toyota disiapkan untuk mendukung penggunaan etanol tinggi.
  • Kolaborasi melibatkan konsorsium industri Jepang, akademisi, dan pemerintah pusat melalui Kementerian Investasi.

“Dengan teknologi multifeedstock, kita bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan ketahanan pangan. Produksi bioetanol tetap berjalan tanpa menekan satu komoditas tertentu,” jelas Mulyadi Irsan saat memimpin rapat koordinasi.

Perwakilan Toyota melalui Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (RECO) menyatakan kesiapan mendukung riset ini seiring target penerapan campuran etanol E20 pada tahun 2030 mendatang.

Investasi ini berjalan selaras dengan agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang mendorong swasembada energi serta hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri secara signifikan.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memberikan dukungan penuh berupa percepatan perizinan, fasilitasi administratif, serta pemberian insentif bagi mitra luar negeri yang melakukan alih teknologi di Lampung.

Universitas Lampung (Unila) turut dilibatkan untuk melakukan analisis mendalam mengenai aspek kimia, fisika, serta biologi tanah di lahan pengembangan guna memastikan keberlanjutan pasokan feedstock tanaman pendamping seperti sorgum.

Tim teknis lintas sektor segera dibentuk untuk melakukan pemetaan lahan secara presisi agar implementasi fisik investasi ini segera dimulai dan menjadikan Lampung sebagai proyek percontohan nasional bioetanol multifeedstock.

Berdasarkan Roadmap Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, wilayah Lampung masuk dalam daftar pusat pengembangan industri energi bersih yang menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan kesejahteraan petani.***

Bagikan :

Artikel Lainnya