Dalam Raker GAPKI Kaltim 2025, Gubernur Harum meminta perusahaan sawit segera mengkonsolidasikan pengelolaan lahan. Kaltim dinilai berpotensi besar menyalip Riau sebagai produsen CPO terbesar nasional.
Arsad Ddin
6 Agustus 2025Dalam Raker GAPKI Kaltim 2025, Gubernur Harum meminta perusahaan sawit segera mengkonsolidasikan pengelolaan lahan. Kaltim dinilai berpotensi besar menyalip Riau sebagai produsen CPO terbesar nasional.
Arsad Ddin
6 Agustus 2025
Samarinda, HAISAWIT – Gubernur Kalimantan Timur H Rudy Mas’ud atau Harum menargetkan wilayahnya menjadi produsen utama crude palm oil (CPO) di Indonesia dalam waktu tiga tahun ke depan.
Pernyataan itu disampaikan Gubernur Harum saat menghadiri Rapat Kerja Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Timur 2025 di Aston Grand Ballroom Samarinda, Kamis (31/7/2025).
“Kalau Kaltim bisa nomor satu, kenapa harus menjadi nomor dua atau nomor lima,” ujar Harum, dikutip dari laman Setda Kaltim, Rabu (6/8/2025).
Dalam forum tersebut, Harum mengajak seluruh pemangku kepentingan sektor kelapa sawit di Kalimantan Timur untuk melakukan konsolidasi demi mencapai target tersebut.
“Jangan ada lahan-lahan sawit tidak digarap, segera konsolidasi. Kalau ada lahan tidur, cari apa permasalahan dan kendalanya,” sambungnya.
Menurut Harum, tantangan seperti infrastruktur dan tenaga kerja bisa dicari solusinya melalui koordinasi antara pemerintah dan pelaku usaha perkebunan.
“Kalau masalah infrastruktur, masalah tenaga kerja, kita duduk bersama bagaimana mencarikan solusinya. Sayang kalau ada lahan atau areal yang tidur tidak dimanfaatkan,” ujarnya.
Ia juga menekankan agar perusahaan sawit yang tergabung dalam GAPKI tidak melewatkan momentum kebutuhan global terhadap energi berbasis sawit.
“Perusahaan yang tergabung dalam Gapki harus bisa mengambil kesempatan,” katanya.
Gubernur Harum mengungkapkan bahwa dirinya memiliki data areal lahan tidur milik perusahaan sawit yang mencapai ribuan hektare di Kaltim.
“Lahan-lahan itu harus dimanfaatkan sesegera mungkin,” ucapnya.
Harum pun menginstruksikan evaluasi terhadap lahan yang tidak produktif, termasuk yang berkaitan dengan status Hak Guna Usaha (HGU).
“Kami akan berkomunikasi dengan kepala daerahnya agar dicarikan solusi. Ini penting agar tidak ada lagi lahan-lahan perkebunan kelapa sawit yang tidur,” kata Harum.
Ia menyampaikan bahwa saat ini Provinsi Riau masih menjadi penghasil CPO nomor satu di Indonesia, namun posisi itu ditargetkan diambil alih Kaltim dalam waktu dekat.
“Tiga tahun kedepan itu harus diambil Provinsi Kaltim,” tegasnya.
Berdasarkan data yang disampaikan Gubernur Harum, luas perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur saat ini mencapai sekitar 1,47 juta hektare. Jika seluruh potensi lahan dimaksimalkan, luasnya dapat berkembang hingga dua juta hektare.
Dengan perluasan dan optimalisasi areal tersebut, Kalimantan Timur dinilai memiliki peluang besar untuk melampaui Provinsi Riau sebagai penghasil minyak sawit mentah terbesar di Indonesia.***