GAPKI Ajak Gen Z Jadi Penyaring Informasi di Tengah Gempuran Isu Miring Sawit

GAPKI dorong generasi muda memahami kontribusi riil industri kelapa sawit nasional demi menangkis narasi keliru. Informasi tersebut disampaikan guna meluruskan persepsi mengenai peran strategis sawit dalam penyerapan tenaga kerja dan stabilitas ekonomi.

BERITA

Arsad Ddin

25 Januari 2026
Bagikan :

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono. (Foto: gapki.id)

Yogyakarta, HAISAWIT – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendorong Generasi Z (Gen Z) bersikap kritis menghadapi kampanye negatif industri sawit dalam seminar nasional di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Kamis (22/01/2026).

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, memaparkan peran strategis sektor kelapa sawit sebagai tulang punggung ekonomi nasional melalui penyumbangan devisa besar serta penciptaan lapangan kerja luas bagi jutaan masyarakat di berbagai wilayah.

Dalam sesi penyampaian materi kunci, Eddy memberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya objektivitas anak muda dalam menyaring setiap informasi miring yang berpotensi merugikan keberlangsungan industri komoditas unggulan milik Indonesia tersebut.

“Generasi muda, terutama Gen Z, perlu memahami bahwa sawit memiliki peran luar biasa bagi negeri ini. Jangan sampai opini negatif yang tidak berimbang justru mencemarkan industri yang telah memberi manfaat besar,” ujar Eddy, dikutip dari laman GAPKI, Minggu (25/01/2026).

Sektor ini tercatat menyerap sekitar 4,6 juta tenaga kerja langsung pada wilayah hulu hingga hilir, serta menghidupi 2,4 juta petani swadaya maupun 1,5 juta petani plasma di seluruh pelosok tanah air.

Total penduduk Indonesia yang menggantungkan hidup pada rantai pasok industri ini mencapai 16,5 juta jiwa, sehingga stabilitas sektor sawit menjadi faktor krusial bagi ketahanan sosial masyarakat secara luas.

Narasi negatif yang muncul secara berulang tanpa adanya klarifikasi berbasis data faktual dikhawatirkan membentuk persepsi keliru yang lambat laun dianggap sebagai sebuah kebenaran oleh masyarakat umum maupun generasi muda.

“Alhamdulillah, selama pandemi tidak ada PHK di industri sawit. Yang terjadi justru penyerapan tenaga kerja baru,” ungkap Eddy saat menjelaskan ketangguhan sektor ini menghadapi krisis ekonomi global beberapa tahun lalu.

Berikut adalah sejumlah fakta utama terkait kontribusi serta kondisi terkini industri kelapa sawit nasional:

  • Menyumbang devisa hingga 39 miliar dolar AS saat periode krisis kesehatan global.
  • Menjaga stabilitas harga Tandan Buah Segar (TBS) petani melalui kebijakan mandatori biodiesel.
  • Sumber pendanaan biodiesel berasal sepenuhnya dari pungutan ekspor sawit, bukan menggunakan dana APBN.
  • Harga minyak sawit tetap lebih terjangkau dibandingkan minyak kedelai, bunga matahari, maupun kanola.

Realisasi devisa pada 2023 dan 2024 mengalami sedikit penurunan akibat tingginya harga minyak sawit dunia yang memicu sejumlah negara importir mulai melirik produk substitusi minyak nabati jenis lainnya.

Produksi nasional cenderung stagnan dalam lima tahun terakhir, sehingga diperlukan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan domestik untuk program biodiesel dengan kuota ekspor guna menjaga kestabilan ekonomi serta pendapatan negara.

Data menunjukkan bahwa industri kelapa sawit tetap menjadi penyumbang devisa terbesar di luar sektor minyak dan gas bumi (migas) serta batubara meski menghadapi berbagai hambatan perdagangan pada pasar internasional.***

Bagikan :

Artikel Lainnya