
Dok. YouTube Hai Sawit TV (Hai Tokoh Sawit)
Jakarta, HAISAWIT – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menggencarkan hilirisasi produk turunan non-pangan melalui kolaborasi bersama pelaku usaha dalam program Hai Tokoh Sawit yang berlangsung pada Jum'at, 31 Mei 2024 lalu.
Langkah ini bertujuan memperluas pemanfaatan komoditas kelapa sawit agar tidak hanya berhenti pada produksi minyak goreng, melainkan merambah ke sektor industri kreatif dan teknologi yang memiliki nilai tambah ekonomi tinggi.
Kepala Divisi Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) BPDPKS, Helmi Muhansyah, menjelaskan bahwa kemitraan strategis merupakan kunci utama bagi lembaga tersebut guna memperkuat posisi industri kelapa sawit di mata masyarakat luas.
“Salah satu tujuan utamanya adalah membangun citra positif mengkampanyekan kebaikan-kebaikan sawit, tentu saja lewat usaha kecil menengah dan koperasi yang berbasis kelapa sawit.” ujar Helmi, dikutip dari YouTube Hai Sawit TV, Jum'at (06/02/2026).
Helmi memaparkan berbagai inovasi hasil riset yang kini mulai bertransformasi menjadi produk komersial nyata, mulai dari peralatan keselamatan kerja hingga produk sanitasi yang kini sudah bisa diproduksi oleh masyarakat.
“Sudah bisa dikembangkan dalam skala UKM, misalnya ada hasil penelitian terkait dengan tinta sawit, kemudian juga ada helm yang berbasis dari sawit, kemudian ada hand sanitizer, hand soap.” ungkap Helmi menjelaskan diversifikasi produk tersebut.
BPDPKS telah mengidentifikasi sejumlah produk turunan potensial yang dapat diproduksi oleh pelaku usaha kecil dan menengah guna meningkatkan pendapatan petani. Beberapa hasil pengembangan riset yang saat ini mulai dipasarkan meliputi:
- Helm pelindung kepala berbasis serat tandan kosong sawit.
- Lilin aroma terapi dan sabun mandi dari minyak sawit.
- Malam atau parafin sawit untuk bahan baku batik.
- Tinta cetak ramah lingkungan dan pakan ternak.
Pengembangan ini juga mencakup bidang seni tekstil melalui penggunaan malam batik sawit yang mulai menggantikan parafin impor. Inovasi ini memberikan peluang baru bagi pengrajin daerah untuk menekan biaya produksi bahan baku.
Terkait prosedur kemitraan, Helmi menekankan pentingnya keterlibatan aktif komunitas dan akademisi. Ia membuka peluang bagi siapa saja yang memiliki ide segar untuk mengajukan proposal pengembangan bisnis yang berbasis komoditas kelapa sawit.
“Jika ada kreativitas mengenai membuat produk dari bahan setengah jadi atau bahan jadi tentang sawit, bisa saja berkolaborasi dengan divisi kami lewat dari asosiasi atau perguruan tinggi.” kata Helmi mengajak para inovator muda.
Melalui program inkubasi bisnis dan kolaborasi dengan berbagai universitas, BPDPKS memberikan pendampingan teknis serta bantuan promosi. Skema ini bertujuan melahirkan wirausaha baru yang mampu mengolah limbah sawit menjadi barang bernilai jual.
Keberhasilan program ini terlihat pada penyerapan tenaga kerja lokal oleh pelaku usaha binaan di daerah Riau dan Jawa Tengah. Sinergi antara riset teknologi dan modal usaha kini menjadi fondasi pertumbuhan industri sawit nasional.***