
Badan Pengelola Dana Perkebunan meraih penghargaan SIEXPO Award 2025 kategori Kelembagaan dan Pelayanan Terbaik sektor sawit pada ajang Sawit Indonesia Expo dan Conference di Pekanbaru, Kamis (7/8/2025). (Foto: Dok. BPDP)
Pekanbaru, HAISAWIT – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menerima penghargaan SIEXPO Award 2025 untuk kategori Kelembagaan dan Pelayanan Terbaik bagi Sektor Sawit. Penghargaan ini diberikan pada ajang Sawit Indonesia Expo dan Conference di Pekanbaru, Riau, Kamis (7/8/2025).
Penghargaan tersebut diterima oleh Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum sekaligus Plt. Direktur Hukum dan Kerja Sama BPDP, Zaid Burhan Ibrahim. Ia hadir mewakili Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman.
Zaid menjelaskan bahwa BPDP memiliki sejumlah program strategis dalam mendukung keberlanjutan sektor sawit. Program tersebut meliputi peremajaan perkebunan, penyediaan sarana prasarana, pengembangan SDM, riset dan inovasi, promosi, hingga penyediaan bahan bakar nabati.
“Berdasarkan Perpres 132 Tahun 2024, mengacu pada keberhasilan di sektor komoditas Kelapa Sawit, BPDP mendapatkan mandat baru pengelolaan dana tiga komoditas yakni Kelapa Sawit, Kelapa dan Kakao,” ujar Zaid Burhan Ibrahim, dikutip dari laman BPDP, Sabtu (9/8/2025).
Dalam kesempatan itu, Zaid juga memaparkan peran BPDP dalam pemberdayaan usaha kecil dan menengah di sektor kelapa sawit. Dukungan diberikan dalam berbagai bentuk kegiatan dan fasilitasi.
“Untuk pemberdayaan UMKM, BPDP memberikan dukungan dalam bentuk Riset dan Inovasi Produk, Inkubasi dan Sosialisasi, Workshop Pengembangan Kapasitas Pelaku UMKM, Workshop Teknis Manajerial, dan Promosi produk UMKM sawit,” ucapnya.
Ketua Pelaksana SIEXPO 2025, Qayuum Amri, mengatakan pameran tahun ini dirancang untuk memberikan ruang seluas-luasnya bagi pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan komunitas.
“Kami ingin SIEXPO menjadi ruang inklusif. Stand pameran tidak dipungut biaya untuk pelaku UMKM, koperasi, lembaga pendidikan, pesantren, dan perguruan tinggi. Ini bentuk nyata ikhtiar kami untuk membesarkan yang kecil, memperkuat yang menengah, dan mempertahankan yang besar,” katanya.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Koperasi dan UKM, Bagus Rahman, menilai SIEXPO menjadi momentum penting bagi hilirisasi sawit. Ia menyebut peran UMKM sangat strategis dalam rantai industri dari hulu hingga hilir.
“Sejak 2022 saya sudah terlibat di acara ini, dan tahun ini jadi momentum penting bagi kami. Presiden ingin koperasi dan UKM lebih fokus, dan ini adalah bentuk nyata sinergi dari hulu ke hilir. UMKM jangan hanya disebut pelaku, tapi ‘pengusaha’, karena mereka punya kemampuan entrepreneurship yang sama,” ujarnya.
Ia menambahkan, produktivitas kebun sawit nasional masih dapat ditingkatkan. Menurutnya, ekspor produk hilir akan memberikan nilai tambah lebih besar dibandingkan dengan mengekspor bahan mentah.
“Luas kebun kita besar, tapi produktivitas masih bisa ditingkatkan. Nilai tambah produk hilir jauh lebih tinggi dibanding ekspor mentah. Kementerian juga ditugaskan mengawasi ekspor, jadi kami punya peran besar dalam memastikan hilirisasi berjalan optimal,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menyampaikan bahwa daerahnya memiliki luas kebun sawit mencapai 3,4 juta hektare dan berkontribusi sekitar 20% terhadap produksi CPO nasional.
“Dengan potensi yang ada, kita semua harus optimis bahwa target produksi CPO nasional sebesar 100 juta ton per tahun untuk mendukung Indonesia Emas 2045 bukan sekadar angan,” katanya.***