Bioplastik Sawit Diproyeksikan Tekan Sampah Plastik yang Mencapai 70 Triliun di Lautan

Produksi petroplastik global yang mencapai 475 juta ton pada 2022 menjadi tantangan besar lingkungan. Bioplastik berbasis sawit hadir sebagai alternatif dengan potensi menekan emisi karbon hingga 70 persen sekaligus mengurangi pencemaran plastik di lautan.

BERITA HAI INOVASI SAWIT

Arsad Ddin

10 September 2025
Bagikan :

Sumber: bpdp.or.id

Jakarta, HAISAWIT - Ketergantungan global pada petroplastik menjadi masalah serius karena sifatnya tidak dapat diperbarui, menghasilkan emisi karbon tinggi, dan membutuhkan waktu lebih dari 450 tahun untuk terurai di alam.

Produksi petroplastik dunia melonjak drastis, dari dua juta ton pada 1950 menjadi 475 juta ton pada 2022. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara konsumen besar dengan volume impor petroplastik yang meningkat dari tahun ke tahun.

Dikutip dari laman BPDP, Rabu (10/9/2025), potensi biomassa sawit global mencapai 2,16 hingga 2,6 miliar ton bahan kering per tahun, dengan produktivitas 80,1 hingga 95,9 ton per hektare. Biomassa ini meliputi tandan kosong, serat, pelepah, batang, hingga cangkang.

PASPI Monitor (2025) menyebutkan, penggunaan bioplastik sawit dapat mengurangi emisi karbon hingga 30-70 persen dibandingkan petroplastik. Pergeseran konsumsi ke bioplastik berpeluang menekan emisi global hingga 316 ribu ton CO2 eq.

Selain rendah emisi, bioplastik sawit memiliki sifat mudah terurai. Jika petroplastik memerlukan waktu ratusan tahun untuk terdegradasi, bioplastik dapat terurai dalam hitungan hari hingga bulan, tergantung jenis polimernya.

Studi Stanton (2022) memperkirakan 50-70 triliun sampah petroplastik saat ini mencemari laut dunia, dan angkanya bisa meningkat tiga kali lipat pada 2040. Data tersebut menggambarkan besarnya potensi dampak positif pengembangan bioplastik.

Program Grant Riset Sawit (GRS) yang dikelola BPDP telah menghasilkan beragam polimer terbarukan. Inovasi tersebut meliputi polybutylene succinate (PBS), polylactic acid (PLA), polyhydroxyalkanoates (PHA), hingga polyhydroxybutyrate (PHB) yang dapat menggantikan plastik konvensional.

Riset lain mencatat, tandan kosong kelapa sawit dapat diolah menjadi asam laktat, bahan baku penting pembuatan PLA. Hasil penelitian menunjukkan fleksibilitas biomassa sawit untuk menghasilkan berbagai jenis bioplastik dengan karakteristik berbeda sesuai kebutuhan industri.

Salah satu hasil penelitian pada 2024 mengolah pulp tandan kosong sawit menjadi paperbag untuk kemasan pembibitan. Temuan tersebut dipublikasikan di bawah program GRS dan menunjukkan aplikasi biomassa sawit pada produk pengganti plastik sekali pakai.***

Bagikan :

Artikel Lainnya