Bagaimana Cara Membangun Kemitraan Plasma yang Harmonis? Simak Bahasannya di HASI 2026

Simposium Sawit 2026 di Jakarta menghadirkan diskusi mengenai pemenuhan kewajiban fasilitasi pembangunan kebun masyarakat secara efektif. Kegiatan ini memberikan panduan teknis bagi para pengelola perkebunan dalam membangun model kerja sama yang inklusif dan akuntabel.

HAI SAWIT EVENT

Arsad Ddin

13 Januari 2026
Bagikan :

Ilustrasi Perkebunan Sawit - HaiSawit

Jakarta, HaiSawit – Strategi penguatan hubungan antara perusahaan perkebunan dan masyarakat melalui skema kemitraan plasma menjadi pembahasan utama dalam Hai Sawit Simposium (HASI) 2026 pada 22–23 April 2026 di Jakarta.

Forum ini mempertemukan para praktisi manajemen sosial dan pimpinan perusahaan agribisnis untuk merumuskan solusi atas tantangan kemitraan. Fokus diskusi mencakup pemenuhan kewajiban regulasi serta teknik komunikasi efektif guna menjaga stabilitas operasional.

Pengelolaan plasma yang transparan merupakan kunci dalam meminimalkan konflik sosial di sekitar wilayah konsesi. Simposium ini menyediakan platform bagi pengelola kebun untuk mempelajari model kerja sama yang saling menguntungkan bagi korporasi maupun petani.

Mekanisme Pengelolaan dan Transparansi

Pembahasan teknis akan menyasar pada standardisasi tata kelola kebun plasma agar memiliki produktivitas yang setara dengan kebun inti. Para pakar akan membedah prosedur administrasi dan pembagian hasil yang sesuai dengan ketentuan hukum nasional.

Beberapa poin krusial dalam sesi kemitraan plasma meliputi:

  • Prosedur fasilitasi pembangunan kebun masyarakat sekitar seluas 20 persen dari total luasan lahan.
  • Mekanisme pelaporan berkala dan keterbukaan perhitungan bagi hasil kepada kelompok tani.
  • Standardisasi budidaya serta penyediaan bibit unggul untuk petani mitra.

Manajemen utang pembangunan kebun dan percepatan proses konversi lahan plasma.

Integrasi teknologi digital juga menjadi instrumen penting dalam memantau produktivitas lahan petani secara real-time. Penggunaan aplikasi manajemen dapat mempermudah koordinasi jadwal panen serta distribusi buah dari lahan plasma ke pabrik.

Mitigasi Konflik dan Stabilitas Investasi

Sesi khusus akan memaparkan teknik negosiasi dan resolusi sengketa yang sering muncul dalam perjalanan kemitraan. Praktisi senior dari perusahaan besar akan berbagi pengalaman mengenai cara menangani tuntutan masyarakat tanpa mengganggu aktivitas produksi rutin.

Faktor-faktor pendukung harmoni sosial yang dibahas antara lain:

  • Pembentukan forum komunikasi rutin antara manajemen perusahaan dengan pengurus koperasi.
  • Program pemberdayaan ekonomi berkelanjutan di luar sektor budidaya kelapa sawit.
  • Penanganan isu legalitas lahan plasma agar tidak berbenturan dengan kawasan hutan.
  • Evaluasi kinerja kemitraan sebagai dasar pengambilan kebijakan jangka panjang.

Himpunan Praktisi Kelapa Sawit Indonesia (HIPKASI) memfasilitasi pertukaran wawasan ini guna meningkatkan daya saing industri sawit nasional. Rekomendasi hasil simposium bertujuan menjadi standar baru dalam menjalankan praktik kemitraan yang profesional dan akuntabel.

Panitia membuka pendaftaran bagi manajer kebun dan staf hubungan masyarakat melalui kanal resmi Hai Sawit Indonesia (HSI) dengan struktur biaya berikut:

  • Early Bird: Rp 1.850.000 (Hingga 31 Desember 2025).
  • Regular: Rp 2.750.000 (1 Januari – 28 Februari 2026).
  • Late: Rp 3.500.000 (1 Maret – 20 April 2026).

Kegiatan ini memberikan akses bagi peserta untuk berdialog langsung dengan narasumber dari kementerian terkait serta praktisi hukum agraria. HASI 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat ekosistem industri sawit yang lebih inklusif.

Melalui diskusi komprehensif, simposium bertujuan menciptakan keselarasan visi antara pelaku usaha dan masyarakat sekitar. Dokumentasi teknis mengenai model kemitraan terbaik akan dibagikan kepada seluruh peserta sebagai rujukan operasional di lapangan.***


Bagikan :

Artikel Lainnya