Sawit Kalbar Miliki Sistem Produksi dan Rantai Nilai Matang, Komoditas Lain Masih Hadapi Tantangan

Kelapa sawit di Kalimantan Barat memiliki sistem produksi dan rantai nilai yang matang, sementara komoditas lain seperti karet, kelapa, dan kopi masih menghadapi tantangan terkait produktivitas, akses pasar, dan dukungan kebijakan.

BERITA

Arsad Ddin

24 Desember 2025
Bagikan :

Kegiatan Pre-Scoping Studi Survei Baseline Komoditas Perkebunan Berkelanjutan di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya, Selasa (24/12/2025). (Foto: Disbunnak Kalbar)

Pontianak, HAI SAWIT - Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya menjadi sentra kelapa sawit dengan sistem produksi dan rantai nilai yang terstruktur, berbeda dengan komoditas lain yang belum sekuat sawit.

Kedua kabupaten juga dikenal sebagai penghasil karet, kelapa, dan kopi, yang menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat setempat selain sawit. Kondisi ini menuntut pendekatan pengembangan yang berbeda untuk tiap komoditas.

Dilansir dari laman Disbunnak Kalbar, Rabu (24/12/2025), Kadis Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Drs. Ignatius IK, S.H., M.Si., menyatakan bahwa kelapa sawit telah memiliki sistem budidaya, rantai pasok, dan dukungan kebijakan yang relatif mapan.

Komoditas seperti karet, kelapa, dan kopi yang banyak diusahakan petani rakyat menghadapi tantangan lebih kompleks. Faktor seperti produktivitas yang tergantung praktik budidaya, fluktuasi harga, dan akses pasar masih menjadi kendala.

Pendekatan pengembangan tidak bisa seragam untuk semua komoditas. Karakter lanskap, struktur rantai nilai, dan dukungan kebijakan di tiap wilayah berbeda, sehingga strategi harus disesuaikan dengan kondisi lokal.

Studi baseline komoditas perkebunan berkelanjutan digelar di Ketapang dan Kubu Raya sebagai langkah awal merancang program yang tepat sasaran. Survei ini menjadi dasar analisis bagi pihak terkait.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk asosiasi perusahaan, asosiasi petani, mitra pembangunan, dan pelaku usaha di sektor perkebunan. Partisipasi lintas pihak menunjukkan pentingnya kerja sama.

Sawit tetap menjadi komoditas andalan karena memiliki rantai nilai yang lebih terstruktur dibanding komoditas lain. Dukungan kebijakan, sistem produksi, dan fasilitas pendukung juga lebih matang.

Sementara itu, komoditas petani rakyat seperti karet, kelapa, dan kopi membutuhkan perhatian lebih, termasuk peningkatan kelembagaan petani dan akses pasar yang lebih baik.

Pendekatan spesifik untuk tiap komoditas diharuskan agar pengembangan perkebunan berkelanjutan dapat berjalan efektif. Strategi ini disesuaikan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan setempat.

Studi baseline yang tengah berlangsung menjadi titik awal pengumpulan data yang akan digunakan untuk merancang program pembangunan perkebunan. Fokus utama tetap pada fakta lapangan dan kondisi nyata di Ketapang serta Kubu Raya.***

Bagikan :

Artikel Lainnya