Pemprov Sulteng: Sawit Jadi Tulang Punggung Ekonomi Nasional dan Penggerak Desa di Sulawesi Tengah

Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Provinsi Sulawesi Tengah, Fahrudin Yambas, menyebut industri kelapa sawit memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional dan daerah. Menurutnya, sektor ini menjadi penggerak utama kegiatan ekonomi pedesaan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani.

BERITA

Arsad Ddin

27 Oktober 2025
Bagikan :

Kegiatan Celebes Forum I Tahun 2025 mengangkat tema “Menghadapi Tantangan Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia di Era Digitalisasi” yang berlangsung di Best Western Coco Palu, Rabu (22/10/2025). (Foto: Diskominfosantik Kota Palu)

Palu, HAISAWIT – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menegaskan bahwa industri kelapa sawit memiliki peran penting dalam menopang ekonomi nasional sekaligus menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi di wilayah pedesaan. Sektor ini dinilai telah membuka peluang besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Fahrudin Yambas, mewakili Gubernur Sulawesi Tengah dalam kegiatan Celebes Forum I Tahun 2025 yang digelar di Best Western Coco Palu, Rabu (22/10/2025).

Dalam sambutannya, Fahrudin menyampaikan bahwa kelapa sawit merupakan sektor vital yang tidak hanya memberikan sumbangan besar terhadap devisa negara, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan jutaan keluarga petani.

“Di Sulawesi Tengah sendiri, sektor ini memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah, serta menjadi penggerak utama kegiatan ekonomi di wilayah pedesaan,” ujar Fahrudin, dikutip dari laman Pemkot Palu, Senin (27/10/2025).

Ia menjelaskan, industri kelapa sawit kini menghadapi tantangan global yang menuntut adaptasi cepat terhadap isu keberlanjutan, perubahan iklim, dan digitalisasi. Menurutnya, setiap pemangku kepentingan perlu berinovasi agar sektor ini tetap kompetitif di pasar dunia.

Fahrudin menambahkan, era industri modern menuntut pelaku usaha sawit untuk lebih transparan dan bertanggung jawab terhadap proses produksi. Standar keberlanjutan menjadi indikator penting bagi negara pengimpor dalam menilai produk sawit Indonesia.

“Dunia kini menilai bukan hanya seberapa besar produksi kita, tetapi juga bagaimana kita memproduksinya — apakah ramah lingkungan, berkeadilan sosial, dan efisien secara ekonomi,” katanya.

Forum ini menjadi wadah bagi pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi dalam menyusun langkah strategis menghadapi perubahan global. Teknologi digital seperti Sistem Informasi Geospasial, Internet of Things (IoT), dan Blockchain dinilai dapat memperkuat rantai pasok industri sawit nasional.

Penerapan teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, dan daya saing produk sawit Indonesia di pasar internasional. Kolaborasi lintas sektor juga dianggap penting untuk memperkuat posisi Sulawesi Tengah dalam mendukung sawit berkelanjutan.***

Bagikan :

Artikel Lainnya