
Kementerian PPN/Bappenas menggelar pertemuan bilateral dengan Chinese Society for Environmental Sciences (CSES) membahas kerja sama perdagangan karbon sawit, di Paviliun Indonesia, Expo 2025 Osaka, Sabtu (11/10/2025). (Foto: Kementerian PPN/Bappenas)
Jepang, HAISAWIT – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas menjalin kemitraan strategis dengan Chinese Society for Environmental Sciences (CSES) untuk mengembangkan metodologi perdagangan karbon khusus di sektor kelapa sawit.
Kolaborasi ini dibahas dalam High-Level Meeting on the Preparation of Bilateral Cooperation between Bappenas and CSES on Innovative Development Financing through Carbon Trading in the Sustainable Palm Oil Industry di Paviliun Indonesia, Expo 2025 Osaka, Sabtu (11/10/2025).
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia memperkuat posisi industri sawit dalam sistem perdagangan karbon global. Langkah ini juga sejalan dengan agenda pembangunan ekonomi berkelanjutan yang menjadi prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas Teni Widuriyanti menjelaskan, nota kesepahaman yang sedang disiapkan dengan pihak China akan menjadi dasar kerja sama komprehensif yang menghubungkan sektor perdagangan, teknologi, dan lingkungan.
“Nota Kesepahaman antara Indonesia dan China akan membentuk kerangka kerja sama yang komprehensif, dengan fokus pada integrasi perdagangan, teknologi, dan lingkungan berkelanjutan, khususnya melalui perdagangan karbon pada komoditas kelapa sawit,” ujar Teni Widuriyanti, dikutip dari laman Bappenas, Minggu (19/10/2025).
Dalam pembahasannya, kerja sama ini menyorot pengembangan mekanisme pembiayaan inovatif yang mampu mendukung kegiatan hilirisasi industri kelapa sawit. Inovasi tersebut mencakup transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan peran koperasi dalam rantai nilai sawit berkelanjutan.
Bappenas juga memperkenalkan konsep Pabrik Kelapa Sawit Rendah Emisi (PaMER) dan Controlled Emission Composting Chamber (CECC) sebagai bagian dari pengembangan teknologi rendah emisi. Teknologi ini diharapkan mampu menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi pengolahan tandan buah segar di pabrik.
Staf Ahli Menteri PPN Bidang Inovasi Pendanaan Pembangunan, Siliwanti, menyampaikan bahwa salah satu fokus utama dari nota kesepahaman ini adalah memastikan metodologi perdagangan karbon di sektor sawit memiliki standar yang diakui secara global.
“Nota Kesepahaman ini akan mendukung pengembangan metodologi pengurangan emisi karbon yang terstandardisasi dan dirancang khusus untuk industri kelapa sawit, guna memastikan integrasinya dalam pasar karbon global,” ujar Siliwanti.
Selain membangun metodologi teknis, kerja sama Bappenas dengan CSES juga akan memperkuat koordinasi antar-lembaga dalam pengembangan kebijakan pembiayaan karbon. Skema ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing industri sawit sekaligus memperluas sumber pendanaan berkelanjutan.
Bappenas menilai, perdagangan karbon dapat menjadi sumber keuangan vital bagi pembangunan nasional di masa depan. Melalui kerja sama dengan China, pasar karbon dipandang berpotensi membuka peluang investasi baru bagi sektor sawit Indonesia.
“Penerapan teknologi rendah emisi akan mengurangi emisi karbon dan meningkatkan perolehan kredit karbon sebagai sumber keuangan vital bagi pembangunan nasional melalui perdagangan kredit karbon dengan China sebagai pembeli utama,” ujar Teni Widuriyanti.
Koordinasi antara Bappenas dan CSES akan dilanjutkan untuk mempersiapkan penandatanganan nota kesepahaman resmi. Pelaksanaan kerja sama ini diharapkan berjalan sesuai ketentuan dan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan industri sawit berkelanjutan berbasis perdagangan karbon.***