Optimisme Ekspor Biodiesel Indonesia Menguat di Tengah Akses Pasar Eropa

Pertumbuhan ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa tercatat konsisten 6,7% per tahun sepanjang 2020–2024. Pemerintah melihat tren ini sebagai dasar optimisme, apalagi pengakuan IEU-CEPA memberi akses resmi bagi produk sawit nasional.

BERITA

Arsad Ddin

23 September 2025
Bagikan :

(Foto: aprobi.or.id)

Jakarta, HAISAWIT – Pemerintah melihat peluang besar pertumbuhan biodiesel Indonesia di pasar Eropa setelah hambatan dagang berhasil diselesaikan. Stabilitas ekspor yang tercatat selama beberapa tahun terakhir menjadi landasan optimisme ke depan.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witjaksono, menyampaikan proyeksi positif tersebut. Ia menilai tren ekspor biodiesel Indonesia tetap berada pada jalur yang menguntungkan meski tantangan global sempat menghadang.

“Angka 6,7% dapat dipertahankan atau bahkan tumbuh, seiring komitmen UE dalam IEU-CEPA yang mengakui sawit Indonesia sebagai energi terbarukan,” ujar Djatmiko Bris Witjaksono, dikutip dari laman Aprobi, Selasa (23/9/2025).

Data menunjukkan, ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa pada periode 2020 hingga 2024 mencatat pertumbuhan konsisten sebesar 6,7% per tahun. Nilai rata-rata yang tercatat mencapai USD319,7 juta selama empat tahun terakhir.

Pertumbuhan ini terjadi meski industri sempat menghadapi tekanan bea masuk anti-subsidi dan dampak pandemi global. Ketahanan ekspor tersebut dianggap sebagai bukti daya saing produk biodiesel nasional di pasar dengan standar ketat.

Faktor lain yang menjadi penopang ialah adanya pengakuan dalam perjanjian Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Kesepakatan itu memberi akses resmi bagi produk sawit, termasuk biodiesel, sebagai bagian energi terbarukan di pasar Eropa.

Pemerintah menilai pengakuan tersebut sebagai fondasi penting dalam memperkuat posisi Indonesia di sektor energi terbarukan. Hal itu membuka jalan bagi peluang ekspor yang lebih luas sekaligus memperbesar potensi peningkatan volume perdagangan.

Meski demikian, pemerintah juga mencatat kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara konsumsi domestik dengan ekspor. Proyeksi konsumsi biodiesel nasional pada tahun 2045 diperkirakan mencapai 15,6 juta kiloliter.

Diversifikasi pasar disebut sebagai strategi penting guna menjaga kesinambungan ekspor. Walau Uni Eropa menjadi mitra utama, Indonesia juga mendorong perluasan tujuan perdagangan biodiesel ke berbagai kawasan lain di masa mendatang.***

Bagikan :

Artikel Lainnya