
Mahasiswa UMKendari melaksanakan program PKM-PM pemanfaatan lahan pasca tambang untuk budidaya jambu kristal dengan POC limbah sawit di Desa Molore, Kecamatan Langikima, MInggu (10/8/2025). (Foto: Dok. UMKendari)
Konawe Utara, HAISAWIT - Inovasi pemanfaatan lahan marginal pasca tambang di Desa Molore mendapat perhatian mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari melalui program budidaya jambu kristal menggunakan Pupuk Organik Cair berbasis limbah kelapa sawit.
Program itu dijalankan oleh kelompok Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) yang diketuai Fitra Oktaviani. Kegiatan berlangsung di Desa Molore, Kecamatan Langikima, Kabupaten Konawe Utara, Minggu (10/8/2025).
Mitra kegiatan adalah Karang Taruna Sinar Harapan yang diketuai Arfin. Tujuan program adalah memberdayakan pemuda desa agar mampu mengelola lahan bekas tambang menjadi produktif dengan teknologi ramah lingkungan.
Menurut Fitra Oktaviani, teknologi POC limbah sawit mampu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
“Kami ingin membuktikan bahwa lahan marginal pasca tambang masih bisa dioptimalkan untuk komoditas bernilai ekonomi tinggi, jika dikelola dengan teknologi tepat guna,” ujar Fitra Oktaviani, dikutip dari laman UMKendari, Kamis (14/8/2025).
Arfin menyambut program ini karena dinilai sejalan dengan upaya desa membuka peluang usaha baru. Ia melihat jambu kristal berpotensi menjadi komoditas unggulan jika dikelola secara berkelanjutan.
Kegiatan meliputi pelatihan teknis budidaya, pembuatan dan aplikasi POC limbah sawit, serta pendampingan manajemen agribisnis. Rangkaian kegiatan diarahkan untuk meningkatkan keterampilan pemuda desa.
Dosen pembimbing program, Dr. Ahmad Muhlis Nuryadi, Wakil Rektor I UMKendari, menilai pemanfaatan limbah pengolahan kelapa sawit untuk budidaya jambu kristal membawa manfaat ekonomi sekaligus menjaga kualitas lingkungan kawasan tambang.
“Harapannya, ke depan program ini dapat menjadi alternatif rehabilitasi lahan bekas tambang untuk memulihkan dan mengembalikan fungsi ekosistem di area yang telah dieksploitasi," tambahnya.
Selain pemulihan ekosistem, program ini juga diarahkan untuk mengurangi dampak kegiatan tambang.
"Tujuannya adalah mengurangi dampak negatif kegiatan tambang dan mengembalikan lahan ke kondisi alaminya atau fungsi yang lebih produktif,” lanjutnya.
Program ini dibiayai Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2025. Kegiatan di Desa Molore menjadi bagian pemanfaatan teknologi tepat guna berbasis limbah sawit untuk mengoptimalkan lahan pasca tambang.***